Kesehatan

Sindikat Jual-Beli Ginjal Terungkap di Bekasi, Ini Kata Ikatan Dokter Indonesia

×

Sindikat Jual-Beli Ginjal Terungkap di Bekasi, Ini Kata Ikatan Dokter Indonesia

Sebarkan artikel ini
jual ginjal | transplantasi ginjal
Ketua Perhimpunan Transplantasi Indonesia, dr. Maharum Bonar saat memberikan paparannya terkait transplantasi ginjal di Indonesia pada konferensi pers daring, Rabu 26 Juli 2023. (Foto: Tangkapan layar Zoom)

JAKARTA, beritajateng.tv – Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Adib Khumaidi ikut bersuara imbas terbongkarnya sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) jual ginjal di Bekasi.

Menurut laporan kepolisian, sebanyak 122 WNI telah melakukan transplantasi ginjal di Rumah Sakit Preah Ket Mealea, Kamboja. Kebanyakan para korban tergiur jual ginjal karena imbalan uang.

Meski begitu, dr. Adib tak membenarkan upaya jual beli organ lantaran alasan ekonomi. Terlebih, proses transplantasi ginjal berkaitan erat dengan keselamatan pasien.

Jika yang melakukan bukan orang yang ahli pada bidangnya, alih-alih membantu penerima donor, proses transplantasi ginjal nantinya malah dapat membahayakan keduanya.

BACA JUGA: Sempat Jual Ginjal Sendiri Seharga Rp 120 Juta, Begini Pengakuan Pelaku Perdagangan Ginjal WNI di Kamboja

“Kondisi ekonomi tidak serta merta membenarkan upaya jual beli organ. Apalagi dalam aspek hukum, hal tersebut termasuk ke dalam kriminal dan pidana umum,” kata dr. Adib dalam konferensi pers, Rabu, 26 Juli 2023.

Lebih lanjut, dr. Adib menyebut bahwa ginjal merupakan salah satu organ yang paling banyak ditransplantasikan. Hal tersebut karena kasus gagal ginjal kian mengalami kecenderungan meningkat tiap tahunnya.

“Gagal ginjal paling banyak disebabkan oleh hipertensi, diabetes, penyakit auto imun, dan batu ginjal,” lanjutnya.

Terlepas dari kasus jual ginjal, 2 dari 20 orang Indonesia mengidap penyakit ginjal kronis

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Transplantasi Indonesia, dr. Maharum Bonar Hasiholan Marbun mengatakan bahwa sedikitnya dua di antara 20 orang Indonesia mengidap penyakit ginjal kronis atau chronic kidney-disease (CKD). Lagi-lagi, hipertensi dan penyakit gula menjadi faktor risiko terbesar akan kenaikan kasus CKD.

“Penyebabnya itu, negara kita hipertensi, tapi yang kedua menjadi masalah adalah diabetes, kenapa sampai diabetes meningkat? Karena pola hidup, kembali lagi ke edukasi,” jelas dr. Bonar.

dr. Bonar juga menggarisbawahi pola hidup masyarakat Indonesia. Menurutnya, banyak masyarakat yang saat ini terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji atau junk food dalam kesehariannya. Padahal, makanan tersebutlah yang memicu munculnya penyakit ginjal kronis.

BACA JUGA: Gagal Ginjal Akut pada Anak Bisa Sembuh, Ini Gejalanya

Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat dan pemerintah untuk terus menggalakkan pola hidup sehat. Salah satunya melalui pola makan rendah garam, rendah lemak, dan rendah gula.

“Restoran juga harus memberikan informasi garam sekian, gulanya sekian, selama ini kan kalau kita beli makanan jumlah kalori nggak ada, itu tugas pemerintah dan asosiasinya,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp