Gaya Hidup

Tak Lagi Bercitra Kriminal, Tato Kini Jadi Media Ekspresi dan Refleksi Diri, Ini Alasannya

×

Tak Lagi Bercitra Kriminal, Tato Kini Jadi Media Ekspresi dan Refleksi Diri, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
Makna Tato
Tato kini menjadi media bagi pemiliknya untuk mengekspresikan diri. (Foto: Dok. Sipatiti Ink)

SEMARANG, beritajateng.tv – Seiring perkembangan zaman, tato yang awalnya identik dengan preman, kriminal, hingga penjahat kini mulai mengalami pergeseran makna.

Saat ini, banyak anak muda yang tak ragu merajah kulitnya dengan jarum suntik. Mereka menganggapnya sebagai sebagai tren dan pelengkap fesyen termodern.

Sebagaimana di Bali, tato juga menjadi hal yang tak asing dan tak tabu lagi di Semarang. Begitulah yang dirasakan oleh Oktar Abriyanto, pemilik studio tato Sipatiti Ink.

Menjadi seniman tato selama 17 tahun, Oktar paham betul perkembangan tato di Semarang. Menurutnya, tato menjadi hal yang semakin lumrah lantaran pesatnya perkembangan teknologi.

BACA JUGA: Mencoba Tato Temporer, Seni Rajah Tubuh Estetik tapi Tetap Halal

“Dulu internet itu kan susah banget. Jadi nyari referensi itu enggak banyak. Sekarang buka Pinterest juga langsung banyak referensi tato bagus-bagus,” kisahnya kepada beritajateng.tv.

Oktar memandang, tato memiliki sifat adiktif atau kecanduan. Tentu bukan dalam hal negatif. Sebab, candu itu berasal dari rasa puas ketika melihat hasil tato yang sesuai keinginan.

Ia bahkan mengibaratkan, ketika ada tato yang pertama, maka nanti ada tato kedua dan seterusnya. Baginya, tato tak ubahnya hal magis yang membuat pemiliknya kian kecanduan.

“Tato itu sakit, tapi kalah ketika kita udah merasa pede, efeknya itu ketika ngaca, ‘Wah, bagus ya, keren.’ Itu ilang semua rasa sakitnya,” beber Oktar.

Punya makna tertentu, tato jadi bentuk refleksi diri, motif tak boleh sembarangan

Perihal motif, Oktar menyebut jika motif tato sebenarnya tak memiliki tren tertentu. Semuanya tergantung selera si pemilik.

Akan tetapi, Oktar mengaku sering menemui pelanggannya yang ngotot untuk menggunakan motif aneh-aneh. Misalnya, nama pasangan atau tanggal jadian.

“Kalau nama pacar mending dipikir 1.000 kali ya karena nanti pasti nyesal. Kasihan kalau udah bikin sakit-sakit tapi nanti beberapa tahun lagi nyesel,” sarannya.

Oleh karenanya, Oktar terus mengedukasi pelanggannya, terutama dalam pemilihan motif. Pasalnya, tato yang menggunakan tinta permanen tentu berlaku seumur hidup.

BACA JUGA: Dari Kafe ke Kafe, Bhubo Temporary Tatto Populerkan Tato Temporer ke Anak Muda Semarang

Di sisi lain, walaupun nantinya bisa ditimpa motif lain, namun menghilangkan tato permanen tidaklah gampang dan butuh teknik khusus. Sehingga, pemilihan motif tato haruslah mempertimbangkan makna tertentu.

Alhasil, pemiliknya tidak akan menyesal di kemudian hari dengan motif tato pilihannya.

“Tato itu refleksi dari pemilik, bisa menceritakan kejadian, ya masa lalu, sekarang, atau masa depan. Sebegitu besar makna tato bagi diri sendiri,” tandas Oktar. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp