Selain faktor alam, ia menyoroti peran drainase yang tidak optimal. Dalam kesempatan itu, Agus menegaskan pergerakan tanah di jalur tersebut bukan fenomena baru. Ia menyebut sejumlah kawasan lain yang pernah mengalami kerusakan serupa.
BACA JUGA: 15 Rumah Terdampak Tanah Gerak di Jangli, Pemkot Semarang Siapkan Opsi Relokasi
“Drainase yang tidak bagus membuat air terserap terus ke dalam tanah. Kalau daya tahan tanah terlampaui, alam akan mencari keseimbangannya. Memangnya di sekitar Jalan Unika atau Untag itu enggak ada rumah yang rusak? Banyak rumah yang dindingnya tiba-tiba retak dan ditinggalkan. Itu faktanya ada di lapangan,” terang Agus.
Ia juga menyinggung wilayah Trangkil di Gunungpati hingga kawasan Greenwood yang menurutnya menunjukkan pola serupa.
“Jalannya sudah diaspal, sudah dibeton, tapi tetap patah-patah lagi. Termasuk perumahan besar di kiri-kanan jalan yang akhirnya tidak jadi karena bangunannya retak-retak,” kata dia.
ESDM Sebut Jalur Struktur Geologi Aktif Seharusnya Tak Boleh untuk Pembangunan
Lebih jauh, Agus menegaskan wilayah yang merupakan jalur sesar semestinya dihindari untuk pembangunan. Ia menjelaskan, retakan akibat struktur sesar umumnya memanjang mengikuti tekanan tektonik.
“Betul, seharusnya hindari daerah-daerah yang merupakan jalur struktur geologi aktif. Kalau namanya struktur atau retakan itu arahnya relatif lurus, tapi bisa sedikit berkelok. Itu akibat tekanan proses tektonik, pergerakan lempeng. Kalau batuan sudah di luar ambang batas kekuatannya, dia akan pecah dan bisa bergeser,” terang Agus.
Menurutnya, jenis sesar bisa berbeda tergantung arah tekanan. Agus mengibaratkan proses tersebut seperti benda yang beroleh tekanan melebihi kapasitasnya.
“Sesar itu bisa turun, bisa naik, bisa geser, tergantung arah tekanan yang datang. Kalau sesuatu ditekan di luar kemampuannya, pasti muncul retakan. Di geologi itu disebut sesar. Retakan itu mencari zona-zona lemah untuk muncul,” pungkas Agus. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





