Menurutnya, pergerakan tanah di wilayah tersebut bukan kejadian baru. Fenomena tersebut telah terjadi sekitar 25 tahun lalu, namun baru kali ini menimbulkan dampak yang signifikan.
“Dulu sudah pernah terjadi puluhan tahun lalu. Sekarang muncul lagi dan pergerakannya cepat, bukan per hari, tapi per menit,” ungkapnya.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Rumah yang roboh diketahui tidak sedang dihuni karena hanya digunakan sebagai gudang.
BACA JUGA: Tanah Longsor Landa Sejumlah Titik Selama Dua Hari, Warga Kaligawe Kian Was-was
Namun, dampak tanah bergerak juga merusak akses jalan lingkungan. Jalan yang mengalami patahan terus bergeser dan menurun, sehingga menyulitkan mobilitas warga.
“Kalau motor tidak bisa lewat, warga parkir di bawah lalu jalan kaki. Sementara itu yang bisa kami lakukan,” katanya.
Joko Sukaryono mengatakan sejumlah instansi terkait seperti BPBD Kota Semarang, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang dan Dinas ESDM Jawa Tengah telah melakukan peninjauan lokasi. BPBD telah menyalurkan bantuan darurat berupa sembako dan peralatan evakuasi.
Dinas ESDM, kata Joko, juga telah mengimbau warga yang rumahnya berada di sisi kanan jalan untuk tidak menempati rumah sementara waktu, terutama saat curah hujan tinggi.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi penanganan jangka panjang agar pergerakan tanah tidak terus mengancam keselamatan permukiman. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





