Ahmad tak bisa memperluas jangkauannya, salah satunya terkait biaya untuk membeli BBM. Biaya lainnya adalah jasa mendorong jukung ke tengah laut, hingga biaya menaikkan dan menurunkan muatan. Termasuk, ongkos untuk bekal selama melaut.
Ia juga harus membeli sekitar satu liter oli campur bensin agar operasi mesin kapalnya berjalan lancar. Selain karena biaya, makin banyak BBM yang digunakan, maka makin besar pula tingkat pencemaran lingkungan yang berpotensi terjadi.
Energi hidrogen untuk masa depan
Ahli ekonomi energi dari Institut Penelitian Ekonomi ASEAN dan Asia Timur (ERIA) Han Phoumin mengungkapkan hidrogen merupakan bahan bakar penting yang berkontribusi untuk mendukung energi bersih untuk masa depan.
Kebutuhan energi bersih pun diproyeksi meningkat seiring target netralitas karbon atau emisi nol karbon pada 2060 atau lebih cepat dari target.
Hidrogen pun dapat menjadi penentu energi bersih yang bisa digunakan untuk kebutuhan serbaguna, di antaranya sektor transportasi yang menyumbang lebih besar polusi.
Indonesia berpeluang besar memaksimalkan produksi hidrogen mengingat banyak sumber energi baru terbarukan (EBT) yang bisa juga memproduksi hidrogen, misalnya dari energi surya, panas bumi, hidro, dan angin.
Tak hanya itu, batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang salah satunya terproses melalui gasifikasi dapat menghasilkan bahan bakar hidrogen.
Kementerian ESDM mencatat penggunaan bahan bakar hidrogen tanpa emisi itu. Di antaranya terkhususkan untuk peralatan elektronik, kendaraan listrik berbasis hidrogen, hingga pembangkit listrik skala besar.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana di sela Pertemuan Menteri Energi ASEAN ke-41 (AMEM) dan Forum Bisnis Energi ASEAN mengungkapkan di Asia Tenggara terdapat potensi EBT mencapai sekitar 17.000 gigawatt.
Sedangkan di Indonesia, menurut perkiraan, potensi EBT mendekati 3.700 gigawatt dan pemanfaatannya baru mencapai sekitar 12,54 gigawatt.





