Gaya Hidup

Tekankan No Gadget untuk Anak di Bawah 2 Tahun, IDAI Ungkap Risiko Nyata Screen Time

×

Tekankan No Gadget untuk Anak di Bawah 2 Tahun, IDAI Ungkap Risiko Nyata Screen Time

Sebarkan artikel ini
Handphone Balita | Gadget Anak | adiksi perilaku | gaya hidup gen Z
Ilustrasi anak bermain gawai. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pentingnya pembatasan penggunaan gadget pada anak, terutama di bawah usia dua tahun. Para pakar tumbuh kembang anak memaparkan risiko serius paparan screen time di masa emas perkembangan otak.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, DR. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K), menyampaikan bahwa periode 1.000 hari pertama kehidupan adalah fase emas yang tidak boleh terganggu oleh sreen time atau paparan layar.

“Di bawah 2 tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan anak, itu periode emas pertumbuhan dan perkembangan. No gadget at all,” ujarnya dalam seminar IDAI baru-baru ini.

BACA JUGA: Khawatir Paparan Konten Medsos, Psikolog Sarankan Anak Punya Gadget Pribadi Minimal Usia 16 Tahun

Menurutnya, banyak kasus keterlambatan bicara (speech delay) yang berkaitan dengan pemberian gadget terlalu dini, bahkan sebelum anak mampu berbicara dengan baik.

Ia mengingatkan, banyak orang tua merasa sudah membatasi gadget karena tidak memberikan ponsel, namun tetap membiarkan anak menonton televisi berjam-jam.

“TV ini juga gadget. Apalagi kalau anak ikut menonton sinetron bersama orang dewasa dalam waktu lama. Ini juga bermasalah untuk perkembangan bahasa,” jelasnya.

Risiko Screen Time Berlebihan pada Anak Balita yang Main Gadget

Sementara itu, dr Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS (K), anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, menjelaskan bahwa screen time berlebihan tidak hanya soal durasi, tetapi juga soal konten dan pendampingan.

Menurutnya, screen time berlebihan tanpa pendampingan aktif orang tua dapat berisiko menimbulkan dampak jangka pendek, yakni keterlambatan motorik, speech delay, gangguan perkembangan kognitif, gangguan tidur akibat paparan sinar biru (blue light), bahkan fenomena “virtual autism” (gejala mirip autisme akibat kurang interaksi nyata).

Sedangkan, dampak jangka panjang saat kebiasaan buruk dilakukan lebih dari lima tahun adalah meningkatnya risiko gangguan fokus, rentan bullying, prestasi akademik menurun, obesitas akibat kurang gerak, dan risiko penyakit tidak menular.