Setiap hari, jalur di Jawa Tengah dilintasi kereta jarak jauh, kereta lokal, dan angkutan barang dengan frekuensi tinggi.
Kondisi tersebut menuntut sistem pengaturan perjalanan yang presisi, mulai dari sinyal elektronik, pusat kendali operasional, komunikasi antar petugas stasiun, hingga pengawasan kecepatan kereta di titik tertentu.
Selain itu, tantangan besar juga datang dari banyaknya perlintasan sebidang di kawasan padat penduduk seperti Semarang, Pekalongan, Tegal, Purwokerto, hingga Solo.
Selama beberapa tahun terakhir, KAI bersama pemerintah daerah telah menutup sejumlah perlintasan liar, memasang palang pintu otomatis, serta menempatkan petugas jaga di lokasi rawan.
BACA JUGA: Antisipasi Kasus Little Aresha Jogja, Pemprov Bakal Cek Izin Seluruh Daycare di Jateng
Namun kedisiplinan pengguna jalan masih menjadi persoalan. Pengendara yang menerobos palang pintu dan memaksa melintas saat kereta datang masih kerap ditemukan.
Pengamat transportasi menilai keselamatan perkeretaapian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Penataan kawasan sekitar stasiun, integrasi moda transportasi, akses jalan yang aman, serta edukasi masyarakat menjadi faktor penting untuk menekan risiko kecelakaan.
Tragedi Bekasi menunjukkan bahwa satu gangguan kecil dapat berdampak besar terhadap sistem transportasi massal.
Karena itu, Jawa Tengah perlu menjadikan peristiwa ini sebagai momentum evaluasi, mempercepat modernisasi keselamatan rel, dan memperkuat pengawasan di seluruh titik rawan. Keselamatan perjalanan kereta api harus menjadi prioritas bersama. (*)





