“Ini bukti bahwa perbedaan budaya dan keyakinan bisa berdampingan dengan harmonis. Ornamen Tionghoa berpadu dengan simbol Islam dalam satu bangunan,” ujarnya.
Di tengah perkembangan kota, rumah kuno bernuansa klenteng itu tak sekadar menjadi saksi sejarah, tetapi juga penanda akulturasi budaya yang tumbuh dan hidup di Blora. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





