BLORA, beritajateng,tv – Sebuah rumah kuno berdiri kokoh di tengah pusat kota Blora, Jawa Tengah. Dari luar, bangunan rumah di Jalan Arumdalu, Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora itu tampak menyerupai klenteng, lengkap dengan lampion dan ukiran khas Tionghoa.
Namun, ada hal yang membuat siapa pun tertegun saat hendak melangkah masuk. Di atas pintu utama, terpampang kalimat syahadat dalam tulisan Arab: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah.”
Perpaduan ornamen Tionghoa dan simbol Islam itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang melintas. Setelah masuk ke dalam, nuansa Tionghoa semakin terasa dari detail arsitektur, warna, hingga ukiran kayu yang menghiasi bagian interior.
BACA JUGA: Pesanan Kue Kering di Blora Naik 30 Persen Jelang Lebaran, Nastar Paling Favorit
Pemilik rumah, Haji Tieksun, menuturkan bangunan tersebut telah berdiri sekitar 200 tahun lalu. Ia menyebut, sejak dahulu rumah itu dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam.
“Dulu pemiliknya juga Cina Muslim. Sekarang saya juga Cina Muslim,” ujar Tieksun saat beritajateng.tv temui di kediamannya, Jumat, 27 Februari 2026 lalu.
Pemkab Blora Sempat Ingin Jadikan Rumah Kuno Bernuansa Klenteng Jadi Cagar Budaya
Tieksun mengungkapkan, rumah tersebut sempat pemerintah minta untuk jadi bangunan cagar budaya. Namun, ia memilih merawatnya secara pribadi.
“Bukan tidak mau, tapi saya ingin merawat sendiri. Rumah ini juga dipakai untuk kepentingan umum,” katanya.
Hingga kini, kondisi bangunan masih terawat dengan baik. Struktur atap dan tiang kayu penyangga tetap kokoh meski telah berusia dua abad. Rumah itu kerap digunakan untuk pertemuan organisasi maupun kegiatan sosial masyarakat.
BACA JUGA: Gebyar Ramadan Blora 2026 Resmi Buka, UMKM hingga Mal Layanan Publik Ramaikan Alun-alun
Lurah Mlangsen, Evi Kartikasari, mengaku kagum dengan keberadaan rumah tersebut. Menurutnya, bangunan itu menjadi simbol nyata kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Blora.





