SEMARANG, beritajateng.tv – Ribuan warga memadati Desa Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, saat mengikuti Tradisi Sadranan Makam Kembang Kuning, Senin, 5 Januari 2025. Tradisi adat yang telah berlangsung selama 428 tahun itu kembali menghadirkan suasana kebersamaan dan silaturahmi lintas daerah.
Peserta sadranan tidak hanya berasal dari Desa Polobogo. Warga dari desa sekitar hingga luar daerah turut hadir mengikuti seluruh rangkaian prosesi. Setiap pelaksanaan tradisi yang selalu jatuh pada hari Senin Pahing di bulan Rajab ini, warga memanfaatkan momentum untuk saling berkunjung dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Kehadiran keluarga dan kerabat dari luar daerah membuat suasana desa menjadi lebih ramai. Warga Polobogo menyambut para tamu dengan terbuka, sehingga tradisi ini tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga ajang temu kangen tahunan.
Prosesi Sadranan Makam Kembang Kuning dimulai dengan keberangkatan warga secara bersama-sama menuju kompleks makam. Mereka membawa tenong, yakni wadah khusus berisi nasi, lauk pauk, dan jajanan pasar. Sepanjang perjalanan, kelompok kesenian setempat menabuh rebana tanpa henti untuk mengiringi rombongan.
BACA JUGA: Pengelolaan BUMDes Diharapkan Tumbuhkan Semangat Gotong Royong
Setibanya di makam Kembang Kuning, warga menata seluruh tenong di area makam. Modin desa kemudian memimpin doa bersama sebagai bentuk permohonan berkah dan penghormatan kepada leluhur. Suasana khidmat menyelimuti prosesi doa yang seluruh peserta ikuti.
Setelah doa bersama selesai, warga membuka seluruh tenong dan mengeluarkan isinya. Mereka kemudian membagikan makanan tersebut dan menyantapnya secara bersama-sama. Tradisi makan bersama ini menjadi penutup rangkaian Sadranan Makam Kembang Kuning.
Kepala Desa Polobogo, Dwi Pristiwaningsih, menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung selama 428 tahun. Ia menyebut Sadranan Kembang Kuning sebagai bagian dari haul Kiai Soreng dan Nyai Soreng. Keduanya dikenal secara turun-temurun sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Polobogo dan sekitarnya.
“Tradisi ini tidak hanya diikuti warga desa, tetapi juga kerabat dari luar kota dan luar daerah,” ujar Dwi. Ia menambahkan, setelah prosesi di makam, warga Polobogo biasanya menggelar open house di rumah masing-masing.
Melalui open house tersebut, warga kembali melanjutkan silaturahmi dengan makan bersama. “Semakin banyak yang datang, semakin ramai, dan itu dianggap semakin baik,” tegasnya.
BACA JUGA: Imbas MBG, Perajin Tahu Tradisional di Blora Alami Lonjakan Pesanan: 3-4 Ribu Potong per Kiriman
Sementara itu, salah satu warga dari luar Desa Polobogo, Bety Roga, mengaku telah beberapa kali mengikuti tradisi sadranan tersebut. Ia menilai Sadranan Makam Kembang Kuning memiliki keunikan tersendiri karena antusiasme warga sangat tinggi.
Menurut Bety, sikap terbuka dan ramah warga Polobogo menjadi daya tarik utama. “Kami datang dari luar daerah, tetapi warga justru senang. Kami merasa seperti keluarga sendiri,” ungkapnya.
BACA JUGA: Santri Kudus Klarifikasi Tayangan Trans7 Soal Minum Susu Jongkok: Itu Tradisi Malam Asyuro
Tradisi Sadranan Makam Kembang Kuning pun terus menjadi simbol kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap sejarah yang tetap lestari hingga ratusan tahun. (*)
Editor: Farah Nazila
Gabung ke Saluran













