Viral

Santri Kudus Klarifikasi Tayangan Trans7 Soal Minum Susu Jongkok: Itu Tradisi Malam Asyuro

×

Santri Kudus Klarifikasi Tayangan Trans7 Soal Minum Susu Jongkok: Itu Tradisi Malam Asyuro

Sebarkan artikel ini
susu
Ilustrasi susu. (Pexels/Pixabay)

KUDUS, beritajateng.tv – Santri Kudus sekaligus mantan Ketua Aliansi Santri Membela Kiai (Asmak) Kudus periode 2019–2024, M Sya’roni, memberikan klarifikasi terkait tayangan program Trans7 yang menyoroti kegiatan minum susu sambil jongkok di Pondok Pesantren Nurul Asna, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Sya’roni menjelaskan, kegiatan itu merupakan tradisi tahunan pada malam Asyuro, bukan tindakan aneh seperti yang digambarkan dalam tayangan.

“Cara minum susu memang sambil jongkok atau duduk. Santri kalau minum ya sambil duduk. Adabnya memang seperti itu. Pihak Trans7 mungkin tidak memahami hal ini,” ujar Sya’roni, Jumat 17 Oktober 2025.

Ia menegaskan, pembagian susu tersebut merupakan bentuk kasih sayang dari Ibu Nyai Hj Basyiroh terhadap para santri, sehingga terlaksana secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan malam Asyuro.

“Sebenarnya itu bentuk kasih sayang dari Bu Nyai terhadap santrinya. Tetapi oleh Trans7, narasinya dibuat-buat,” terangnya.

BACA JUGA: Viral #BoikotTrans7 soal Ulama Lirboyo, Rois Syuriah PWNU Jateng Desak KPI-Dewan Pers Tindak Tegas

Lebih lanjut, Sya’roni mengungkapkan bahwa Trans7 menayangkan video tersebut tanpa izin dari pihak pondok pesantren. Menurutnya, tayangan itu Trans 7 ambil dari media sosial pesantren tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

“Pihak Trans7 tidak izin. Mereka hanya mencomot dari medsos pondok pesantren. Kami sangat menyesalkan hal ini,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa Ibu Nyai Hj Basyiroh tidak mempermasalahkan pemberitaan yang viral tersebut.

“Beliau sabar, tidak ingin hal ini dibesar-besarkan. Tapi kami sebagai muridnya merasa tidak bisa menerima,” ucapnya.

BACA JUGA: Program Trans7 dan Narasi yang Teranggap Melecehkan Pesantren, Netizen Ramai Tulis Boikot

Sya’roni berharap Trans7 menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan lebih berhati-hati dalam membuat narasi mengenai kegiatan pesantren di kemudian hari.

“Trans7 sebaiknya tidak mengeluarkan narasi yang belum pasti kebenarannya,” tegasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp