SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 242 sekolah pada jenjang SMA, SMK, MA, dan SLB di Jawa Tengah menyandang sebagai Sekolah Adiwiyata. Artinya sekolah yang wajib memiliki kepedulian terhadap lingkungan yang sehat, bersih, dan indah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmiko, mengatakan, jumlah Sekolah Adiwiyata tersebut tercatat hingga 31 Agustus 2026.
“Dengan adanya sekolah Adiwiyata ada beberapa hal yang menurun dan itu memang memberikan dampak yang signifikan,” kata Heru acara Pembinaan dan Gerakan Peduli Lingkungan untuk Lembaga dan Masyarakat di Jawa Tengah, di Aula Kalpataru, Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah pada Kamis, 17 September 2026.
BACA JUGA: Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II Lampaui 90 Persen, Ditarget Rampung Akhir Agustus 2026
Heru bilang, program Adiwiyata memberikan dampak terhadap pengelolaan sumber daya dan lingkungan di sekolah. Melalui program itu, sekolah-sekolah tersebut dinilai berkontribusi terhadap penurunan timbulan sampah, konsumsi air bersih, serta penggunaan energi.
Ajarkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini di Sekolah
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno mengatakan, pembangunan sekolah Adiwiyata menjadi langkah strategis untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda sejak dini.
Menurutnya, sekolah Adiwiyata tidak sekadar berorientasi pada penghargaan. Akan tetapi menjadi ruang pendidikan untuk membentuk kebiasaan dan kepedulian siswa terhadap persoalan lingkungan.
“Ini menjadi titik yang strategis, karena mendidik anak-anak kita untuk lebih menginternalisasi pemahaman tentang kepedulian terhadap masalah lingkungan,” kata Sumarno.
BACA JUGA: Warga Gelar Aksi Teatrikal Tolak MBG di Sekolah, Anggap Ganggu Proses Belajar
Dia mengatakan, persoalan lingkungan membutuhkan kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan mengenai lingkungan perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini.
Sumarno juga mengapresiasi sekolah-sekolah di Jawa Tengah yang telah berkomitmen mengembangkan program Adiwiyata.
Menurutnya, penghargaan yang diberikan kepada sekolah Adiwiyata bukan menjadi tujuan akhir, melainkan dapat menjadi pemicu bagi sekolah lain untuk melakukan hal serupa.
“Kami berharap apa yang dilakukan sekolah-sekolah ini lebih dikembangkan lagi. Apresiasi ini bukan akhir, tetapi menjadi motor motivasi agar sekolah-sekolah lebih bersemangat dan menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menjadi sekolah Adiwiyata,” katanya.
Selanjutnya Sumarno berharap, pengembangan sekolah Adiwiyata terus dilakukan secara bertahap. Tentunya agar semakin banyak sekolah di Jawa Tengah yang menerapkan gerakan peduli lingkungan. (*)
Editor: Diaz A Abidin





