TEMANGGUNG, beritajateng,tv – Perasaan berkecamuk Indarwati (36) bermula saat mendiang ayahnya berpesan seutas hal. Sewaktu masih hidup, sang ayah ingin agar ada anaknya yang meneruskan profesi sebagai petani di Dusun Jurang Delik, Desa Margolelo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Hal inilah yang menggerakan hati Indarwati untuk menjadi petani kakao dari hulu ke hilir. Sebuah potensi desa yang nyaris hilang, dan kini mulai dia hidupkan kembali.
Memori itu muncul, dari penuturan sang ayah dan hasil risetnya di 20 kecamatan di Kabupaten Temanggung. Menurutnya, pada era 1990-an pemerintah Indonesia membagikan benih kakao di desanya untuk ditanam masyarakat.
Sayangnya, Indarwati menemukan fakta yang tak mudah bagi petani. Hasil panen kakao lebih murah berbanding kopi yang sudah terkenal di Temanggung. Era 2.000-an misalnya, dia bilang harga kopi kering per kilogram (kg) seharga Rp30 ribu, sementara kakao hanya Rp20 ribu.
Rendahnya nilai resapan pasar kakao membuat petani di daerahnya menebang tanaman tersebut. Mereka mengganti Kembali kakao dengan tanaman kopi, yang secara ekonomi saat itu lebih bagus.

Padahal, Indonesia pernah menjadi negara ketiga pengahasil kakao terbesar di dunia. Indonesia berada di bawah Pantai Gading, dan Ghana. Daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia seperti di Aceh, dan Sulawesi.
Indarwati juga mengingat, mendiang sang ayah bahkan hanya meninggalkan warisan dua pohon. Salah satu pohon kakao bahkan hampir mati setelah ditebang orang tanpa seizinnya.
”Dari situ saya lihat langsung di kebun kopi kami. Bapak saya masih meninggalkan dua pohon kakao. Aku nyebutnya pohon kehidupan. Karena banyak cerita yang tadinya di tebang orang. Saya rawat, Alhamdulillah bisa tumbuh bertunas kembali dan beranak pinak.” kata Indarwati, di Rumah Cokelat Memukao, Ahad, 25 Oktober 2026.





