Pasar produk Pawon Mbok Kumpul juga tidak hanya berasal dari pengunjung pameran. Susiwati mengatakan abon lele produksinya bahkan pernah dibawa ke Australia oleh komunitas yang ikut mendorong pengembangan produk UMKM.
“Abon lelenya kemarin sudah sampai di Australia, dibawa dari komunitas yang kepengin mengangkat UMKM,” tuturnya.
BACA JUGA: Murah dan Enak! Berikut Daftar Tempat Kuliner Solo Terkenal di Kalangan Mahasiswa
Bagi Susiwati, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses memperluas pengenalan produk UMKM lokal.
Dia bilang, tidak ingin hanya mengejar jumlah penjualan dalam setiap pameran. Menurutnya, kesempatan memperkenalkan produk kepada konsumen menjadi hal penting karena tidak semua produk UMKM bisa langsung laris ketika mengikuti pameran.
Abon Tahan Disimpan hingga 5-6 Bulan
Selain kepraktisan, Susiwati menyebut produk abon Pawon Mbok Kumpul memiliki daya simpan yang cukup panjang karena dibuat dalam kondisi kering.
Dia mengklaim abon dapat bertahan sekitar lima hingga enam bulan dalam suhu ruang. Klaim tersebut, kata dia, berdasarkan pengujian mandiri yang dilakukan terhadap produknya.
“Saya berani klaim kalau abon-abon ini karena memang kering, lima sampai enam bulan. Sudah kita uji lapangan, uji mandiri juga,” ucapnya.
Dikatakannya, uji tersebut dilakukan dengan menyimpan produk di etalase dalam kondisi suhu ruang selama beberapa bulan.
Dalam pameran, Susiwati mengaku mendapat respons dari berbagai kalangan, mulai dari tamu undangan hingga sesama pelaku UMKM. Sejumlah konsumen yang sebelumnya pernah membeli produknya juga melakukan pembelian ulang.
Menurutnya, cerita dari konsumen yang telah mencoba produk menjadi salah satu cara penting untuk memperkenalkan abon Pawon Mbok Kumpul kepada pasar yang lebih luas.
“Yang penting intinya produk kami dikenal. Bahwa UMKM juga mampu mengangkat produk abon, segala macam, enggak pabrikan,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





