Pihaknya menjelaskan, dalam proses mati lemas terdapat empat fase yang masing-masing berlangsung sekitar dua menit. Mulai dari berkurangnya pasokan oksigen, munculnya sesak napas, penurunan kesadaran, hingga kejang sebelum akhirnya korban meninggal dunia.
“Ada empat proses. Setiap proses ini kurang lebih dua menit. Jadi kurang lebih delapan menit dari mulai kehilangan oksigen, sesak napas, kemudian kejang dan seterusnya,” ungkap Istiqomah.
Ia menambahkan, semakin tinggi kadar karbon monoksida yang terhirup, semakin cepat pula gejala berat hingga kematian terjadi.
“Mulai 800 PPM sudah mulai toksik. Begitu meningkat sampai 1.600 atau 2.000 PPM, gejalanya lebih cepat dan lebih mematikan,” jelasnya.
Korban Diduga Sudah Meninggal Sejak Dini Hari
Selain mengungkap penyebab kematian, tim forensik juga memperkirakan waktu meninggal dunia keempat korban.
Istiqomah mengatakan kesimpulan tersebut 𝖽iperoleh dari pemeriksaan tanda pasti kematian seperti lebam mayat dan kaku mayat yang 𝖽itemukan saat autopsi.
“Dari tanda pasti kematian terkait lebam mayat dan juga kaku mayat, ini kurang lebih 24 jam dari kami periksa,” ujarnya.
Karena pemeriksaan 𝖽ilakukan pada Kamis setelah korban 𝖽itemukan pada Rabu sore, tim forensik memperkirakan kematian terjadi beberapa jam sebelumnya.
“Kemungkinan dini hari atau menjelang pagi sudah meninggal,” kata Istiqomah.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil penyelidikan yang menunjukkan keluarga tersebut terakhir kali beraktivitas pada malam hari sebelum akhirnya 𝖽itemukan meninggal dunia keesokan sorenya.
Ventilasi Tertutup Diduga Percepat Penumpukan Karbon Monoksida
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Anwar Nasir, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium forensik menunjukkan karbon monoksida terperangkap di dalam tenda saat peristiwa terjadi.
Anwar menuturkan, kondisi tersebut 𝖽ipengaruhi oleh minimnya sirkulasi udara karena seluruh ventilasi dan pintu tenda dalam keadaan tertutup.





