SEMARANG, beritajateng.tv – Kesenjangan daya saing pariwisata antara kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah dengan Pantai Selatan (Pansela) hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih menjadi sorotan pelaku industri.
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jawa Tengah (Jateng) menilai, ada sejumlah faktor mendasar yang membuat wilayah Pantura belum mampu bersaing secara optimal.
Pengurus ASITA Jateng, Ririn Setyawati, menyebut secara umum tren kunjungan destinasi tempat wisata (DTW) di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, kondisi tersebut belum merata, khususnya di kawasan Pantura yang dinilai masih sulit berkembang.
“Jateng secara peningkatan kunjungan sebenarnya oke. Cuma beberapa daerah, seperti Pantura susah banget ngangkatnya, kecuali ada DTW religi. Maka perlu poin unik tersendiri selain religi buat meningkatkan pariwisata lokalnya,” ujar Ririn pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Ririn yang juga menjabat sebagai Koordinator Wilayah ASITA Kota Semarang, mengatakan ada sejumlah persoalan utama yang membuat Pantura tertinggal. Mulai dari kondisi infrastruktur yang kurang mendukung, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga lemahnya strategi branding dan promosi wisata.
“Karena secara infrastruktur Pantura susah, macet, banyak truk. Kemudian SDM, branding-nya juga kurang, termasuk konten-kontennya untuk menarik wisatawan,” jelasnya.
BACA JUGA: Pemprov Jateng Fokus Pariwisata di 2027, Gus Yasin: Kita Dorong Seribu Desa Wisata dan Content Creator
Perbandingan dengan kawasan Pansela hingga DIY, menurut Ririn, semakin menegaskan adanya kesenjangan baik dari sisi fasilitas maupun daya tarik wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Meski demikian, ia tetap optimistis kawasan pesisir Jawa Tengah, khususnya Pantura, memiliki peluang untuk berkembang jika didukung strategi yang tepat. Salah satunya dengan menghadirkan ikon wisata yang unik dan berbeda, tidak hanya mengandalkan sektor religi.
“Bisa, pasti bisa, harusnya bisa. Lasem contohnya, itu punya icon unik Pecinan yang beda dengan kawasan lain, sehingga bisa tumbuh kan,” pungkasnya.





