SEMARANG, beritajateng.tv – Kata bengkel umumnya identik dengan tempat reparasi kendaraan. Namun, di Kota Semarang ada bengkel yang khusus melayani pembersihan dan pengolahan kepala sapi dan kambing.
Namanya adalah “bengkel kepala”. Setiap Hari Raya Idul Adha, para bengkel kepala di Kampung Bustaman Semarang kecipratan berkah.
Hingga hari kedua ini, para bengkel kepala tampak masih sibuk sejak pagi. Sesuai namanya, mereka akan membersihkan dan mengolah kepala sapi dan kambing hingga tuntas.
Mulai dari membelah kepala dengan kapak, menyayat rambut dan kulit dengan pisau, hingga mencongkel mata, gigi dan berbagai organ lainnya.
BACA JUGA: Dulunya Masyhur Sebagai ‘Kampung Jagal’, Begini Kisah Kampung Bustaman Sekarang
Kedengarannya memang sadis dan menyeramkan. Namun, begitulah para bengkel kepala di Kampung Bustaman bekerja.
Sebagai kampung legendaris tukang jagal hewan kambing dan sapi, warga Kampung Bustaman juga punya ahli kepala. Salah satunya Ninik Astia.
Sebagai ahli kepala, Ninik mengaku selalu kebanjiran pesanan saat Idul Adha. Pasalnya, tak semua orang mau mengolah kelapa sapi dan kambing.
“Enggak semua orang mau mengolah kepala, karena kepala ini kan mungkin butuh waktu dan tenaga lebih. Rata-rata kalau di kampung-kampung kan cuma ngeleti (menyayati) dagingnya saja,” ungkapnya saat beritajateng.tv temui.
Bengkel Kepala Bustaman merupakan keahlian turun-temurun
Dalam mengolah kepala, Ninik tak bekerja sendirian. Ia bekerja bersama 3 hingga 4 sanak keluarganya di salah satu sudut Kampung Bustaman.
Keluarganya memang telah bertahun-tahun membuka jasa bengkel kepala. Tak heran jika ia tampak ahli mengoperasikan senjata utamanya, kapak dan pisau.
Namun sayangnya, Ninik menyebut jika pesanan tahun ini tak seramai biasanya. Pun kebanyakan adalah kepala kambing, bukan sapi.
Sehingga bisa diprediksi, keuntungannya tak begitu banyak tahun ini. Sebab, satu kepala kambing dihargai mulai dari Rp75 ribu sampai Rp100 ribu. Sementara untuk sapi bisa mencapai Rp300 sampai Rp500 ribu.
“Itu sudah sepaket sama kaki-kakinya. Dapatnya tidak pasti. Kadang sehari bisa 10. Kadang juga 5. Tapi tahun ini enggak sebanyak tahun-tahun lalu sih,” bebernya.
Sementara itu, Ketua RW 3 di Kampung Bustaman, Purwodinatan, Semarang Tengah, Ashar mengatakan, warganya memang terkenal akan keahlian dalam mengolah kepala hewan kurban. Hal itu karena Kampung Bustaman memiliki sejarah sebagai kampung jagal.
Sehingga, lanjut Ashar, warganya sudah terbiasa mengolah hewan kurban secara turun-temurun. Tak terkecuali bagian kepala.
“Tapi sekarang warga menggunakan keahlian itu cuma pas Idul Adha. Setelah itu mereka kembali ke pekerjaan aslinya ada yang jualan bumbu, jualan jajanan pasar, dan lainnya,” ucapnya.
Hingga saat ini, Ashar mengungkapkan setidaknya ada 30 warganya yang membuka jasa bengkel kepala. Tak tanggung-tanggung, mereka bisa menggarap ribuan kepala hingga seminggu setelah Idul Adha nanti. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





