Ekbis

Curhat Hotel di Semarang, Efisiensi Anggaran Pemerintah Hilangkan 70 Persen Pendapatan

×

Curhat Hotel di Semarang, Efisiensi Anggaran Pemerintah Hilangkan 70 Persen Pendapatan

Sebarkan artikel ini
Hotel Harris Semarang. (Google Review)
Hotel Harris Semarang. (Google Review)

SEMARANG, beritajateng.tv – Efisiensi anggaran oleh pemerintah berdampak pada banyak sektor. Termasuk sektor perhotelan.

General Manager Hotel Harris Sentraland Semarang, Alit Winawa mengungkapkan jika tahun 2025 akan menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan bisnis hotel dan pariwisata. Pasalnya, pemerintah kini mengurangi perjalanan dinas atau aktivitas-aktivitas yang melibatkan sektor perhotelan.

“Bisnis pariwisata sekarang mulai struggle apalagi pengurangan biaya karena kita sebenarnya hidup dari sokongan pemerintah. Ketika ada penciutan anggaran sangat efek kepada bisnis kita,” ungkap Alit kepada beritajateng.tv, Sabtu, 8 Februari 2025.

Alit menuturkan, pemerintah selama ini menjadi penyumbang terbesar terhadap tingkat keterisian hotel atau okupansi. Mulai dari kegiatan pertemuan, rapat, hingga seminar.

BACA JUGA: Spesial Sambut Natal dan Tahun Baru 2025, Grand Candi Hotel Semarang Tawarkan Beragam Promo Menarik

Dengan adanya kebijakan pemangkasan biaya perjalanan dinas itu, kata Alit, geliat bisnis sektor perhotelan akan berkurang signifikan. Ia mencontohkan, pendapatan di Hotel Harris Sentraland selama ini lebih dari 70 persennya berasal dari kegiatan pemerintah.

“Instansi menyumbang lebih 70 persen, karena hotel memang disokong oleh pemerintah. Kalau sekarang pemerintah telah mulai mengencangkan ikat pinggang, apa yang bisa mengganti bisnis itu,” sambungnya.

Sasar target pasar lain

Lebih lanjut, Alit menyampaikan jika awal tahun semestinya menjadi berkah tersendiri bagi bisnis perhotelan. Sebab, awal tahun menjadi waktu bagi pemerintah akan mengalokasikan anggaran untuk setahun kedepan dan mulai merancang rencana kegiatan.

Namun, akibat kebijakan efisiensi yang terjadi, Hotel Harris Sentraland hampir tidak menerima reservasi hotel untuk kegiatan instansi pemerintah selama beberapa bulan ini. Artinya, tingkat keterisian tahun ini masih minim.

“Biasanya pagu keluar, di akhir Maret awal April sudah mulai ada permintaan-permintaan. Sekarang kan enggak ada. Yang biasanya diusung pemerintah seperti seminar tidak approve,” kata Alit.

Ia menambahkan, kondisi saat ini tergolong mirip dengan kondisi saat Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Saat itu, hotel kehilangan 50 persen pemasukkan dan terpaksa merumahkan karyawan akibat pembatasan kegiatan.

Demi menjaga supaya bisnis hotel rapat terus berjalan, Alit dan hotel-hotel di Semarang kini sedang memutar otak mencari cara lain demi menutupi pemasukan yang hilang dari sektor pemerintah. Salah satunya dengan memperbaiki dan memperluas layanan.

“Strateginya, kita shifting ke segmen pasar lain, ke ikan-ikan yang lain. Dengan catatan, kita perbaiki semuanya. Mulai dari software, hardware, product quality, dan yang utama adalah direct experience customer,” katanya.

BACA JUGA: Pembunuh Wanita di Kolong Kasur Hotel Semarang Tertangkap, Ini Alasan Pelaku Cekik Korban

Alit berharap, pemerintah dapat segera memulihkan anggarannya. Bagaimanapun, sektor perhotelan memegang peranan penting dalam kemajuan ekonomi daerah.

“Harapan kedepannya kita semua sama-sama membangun negara, karena bagaimanapun penyumbang pajak adalah dari sektor hotel juga,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp