SEMARANG, beritajateng.tv – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pekalongan telah meminta pelaksanaan Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) dievaluasi secara total dan menyeluruh.
Imbauan tersebut disampaikan MUI Kabupaten Pekalongan dalam rilis resminya setelah muncul sorotan terhadap salah satu penampilan dalam SKNC pada Kamis, 10 September 2026 malam, yang diduga mengandung ritual satanic.
Ketua Umum MUI Kabupaten Pekalongan Tajuddin Sholeh, mengatakan ritual satanik atau ajaran satanisme beserta penyerupaannya bertentangan dengan ajaran Islam.
Hal itu tertuang dalam Himbauan MUI Kabupaten Pekalongan Nomor 025/MUI/KAB-PKL/IX/2026 yang diterbitkan pada Senin, 14 September 2026.
“Ritual satanic (ajaran satanisme) atau sejenisnya dan penyerupaannya bertentangan dengan ajaran Islam,” ujar Sholeh dalam imbauan resmi yang beritajateng.tv terima Selasa, 15 September 2026.
Dalam imbauannya, MUI Kabupaten Pekalongan meminta panitia, penyelenggara, serta pihak terkait melakukan evaluasi total dan menyeluruh terhadap kegiatan SKNC.
“Kepada Pemerintah Daerah dan Kepolisian pada setiap levelnya untuk memperketat perizinan dan pengawasan kegiatan yang mengundang keramaian, menggunakan fasilitas umum dan berpotensi menghadirkan kejahatan, pelanggaran norma agama dan kesusilaan,” tuturmya.
MUI juga meminta agar evaluasi dilakukan dengan mencermati kembali pelaksanaan kegiatan, khususnya setelah muncul sorotan terhadap penampilan yang diduga mengandung unsur ritual satanik.
Selain evaluasi terhadap penyelenggaraan SKNC, MUI mengingatkan agar kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan keagamaan maupun pagelaran seni budaya tetap memperhatikan hukum, norma agama, kesusilaan, dan kepatutan.
“Mengimbau kepada masyarakat muslim untuk tidak mengadakan kegiatan hari besar Islam dengan acara atau kemasan yang berpotensi mengundang kemaksiatan, melanggar hukum, menghadirkan kejahatan dan melanggar norma agama, kesusilaan dan kepatutan,” kata Sholeh.
Tak hanya kepada panitia, MUI Kabupaten Pekalongan juga mengimbau pemerintah daerah dan kepolisian pada setiap level untuk memperketat perizinan serta pengawasan kegiatan yang mengundang keramaian.
Terlebih, kegiatan yang menggunakan fasilitas umum dan berpotensi menghadirkan kejahatan maupun pelanggaran norma agama dan kesusilaan.
MUI juga mengajak tokoh masyarakat dan tokoh agama ikut mengarahkan serta mengawasi kegiatan yang berlangsung di lingkungan masyarakat agar tidak melanggar hukum, norma agama, kesusilaan, maupun kepatutan.
“Mengimbau kepada masyarakat secara umum untuk berhati-hati, menghindari dan tidak terlibat dengan kegiatan-kegiatan atau acara yang berpotensi melanggar hukum, norma agama dan kesusilaan, namun dibungkus kegiatan agama, pagelaran seni budaya atau lainnya,” katanya.
MUI Jawa Tengah Ingatkan Agar Kegiatan Maulid Diisi dengan Acara Positif
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Tengah Ahmad Daroji menilai penampilan yang dinilai tidak pantas di hadapan umum. Terlebih dikaitkan dengan kegiatan keagamaan, termasuk peringatan Maulid Nabi, seharusnya tidak dilakukan.
Ahmad Daroji menuturkan, sebuah kegiatan yang dimaksudkan dengan tujuan baik justru dapat memberikan contoh yang sebaliknya. Tentu apabila dikemas dengan pertunjukan yang tidak sesuai dengan konteks peringatannya.
“Jadi apa yang tidak pantas di hadapan umum dan itu kaitannya dengan agama yaitu tentu tidak baik it. Apalagi itu di kegiatan Maulid Nabi, sehingga mungkin maksudnya baik tapi jadinya jadi contoh yang tidak baik,” katanya via sambungan telepon, Selasa, 15 September 2026.
Dia mengatakan, peringatan Maulid Nabi seharusnya diisi dengan kegiatan yang memberikan keteladanan dan membawa manfaat bagi masyarakat.
“Tidak pernah diajarkan kepada kita mengenai kelahiran seorang siapapun, apalagi Nabi. Nabi contoh yang terbaik, diperingati dengan cara yang tidak wajar dan tidak pantas yang seharusnya tidak, tentu itu tidak benar,” ucapnya.
Sebab itu, Daroji berharap umat Islam di Indonesia memperingati kelahiran Rasulullah SAW dengan kegiatan yang sesuai, seperti ceramah, membaca selawat, serta menjelaskan kehidupan dan perilaku Nabi Muhammad SAW sebagai teladan.
“Kita harapkan umat di Indonesia ini memperingati Rasulullah itu ya dengan ceramah, dengan membaca sholawat beliau, dan kehidupan Rasulullah begini. Itu memang pantas dilakukan,” katanya.
Khawatir Penampilan Diduga Satanic Itu Timbulkan Kesan Buruk terhadap Maulid Nabi
Lebih jauh, Ahmad Daroji mengaku khawatir penampilan tersebut justru menimbulkan persepsi buruk terhadap peringatan Maulid Nabi.
Dia mengingatkan kemungkinan munculnya anggapan bahwa kegiatan Maulid Nabi tidak perlu dilakukan. Apabila peringatannya justru dikaitkan dengan pertunjukan yang dinilai tidak pantas.
“Jangan-jangan itu ada maksudnya yang tidak kita duga, jangan-jangan maksudnya tidak baik, itu kan bisa timbul kontra. Justru maksudnya mau merendahkan Nabi dengan contoh yang ia sampaikan itu, padahal kita melihat Nabi itu justru contoh yang terbaik. Jangan justru terbalik, kesan orang jadi jelek itu, itu salah,” katanya.
Dia meyakini hal tersebut dapat menimbulkan penilaian negatif terhadap Maulid Nabi. Meskipun, kata dia, belum tentu menjadi tujuan dari pihak yang menggelar pertunjukan.
Tak cuma itu, Daroji juga menyinggung kemungkinan munculnya persepsi penistaan agama apabila yang ditampilkan dalam pertunjukan tersebut dianggap memenuhi unsur tersebut. Akan tetapi dia berharapa agar hal itu tidak sampai terjadi.
Saat ditanya kembali mengenai kemungkinan adanya unsur penistaan agama, Daroji menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan hal tersebut.
“Kalau sampai unsur penistaan agama bisa pidana itu Mudah-mudahan tidak terjadi [penistaan agama], tetapi bisa jadi orang yang ke sana, ‘Oh ini penistaan ini.’ Mudah-mudahan tidak terjadi,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





