SEMARANG, beritajateng.tv – Seorang oknum guru bimbingan konseling (BK) SMAN 3 Kota Pekalongan berinisial SS menurut dugaan melakukan pelecehan secara verbal kepada sejumlah siswi.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah pun turut merespons kasus yang lagi-lagi mencoreng dunia pendidikan tersebut.
Saat dijumpai langsung di kantornya, Selasa, 8 Oktober 2024, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Menengah Akhir (PSMA), Disdikbud Jawa Tengah, Kustri Saptono, mengungkap, jumlah siswi yang pelaku lecehkan sebanyak 16 orang.
Kustri pun turut membeberkan kronologi dari kejadian tersebut. Berikut beritajateng.tv rangkum kronologi pelecehan verbal yang menimpa belasan siswi SMAN 3 Pekalongan, menurut keterangan Kustri.
BACA JUGA: Pendukung Paslon di Pekalongan Ricuh Hingga Lempar Bambu, KPU Jawa Tengah: Bisa Pidana
1. Berawal dari inisiatif BK untuk awasi siswi yang dianggap “rentan” terlibat pergaulan bebas
Kejadian itu bermula dari inisiatif BK SMAN 3 Pekalongan untuk mengawasi atau mendampingi siswinya agar tak terjerumus pergaulan bebas. Terpilihnya 16 siswi itu, kata Kustri, lantaran dianggap perlu pendampingan khusus.
“Di tahun ajaran ini, guru BP punya inisiatif untuk mengidentifikasi, siapa tau ada yang kira-kira berpotensi apakah pergaulannya perlu pengawasan atau pendampingan. Dipanggillah beberapa siswi yang oleh guru BP itu dianggap perlu pendampingan, informasi itu saya terima dari Kepsek,” ucapnya.
Kustri menyebut, ada 3 guru BP, dua orang merupakan guru perempuan dan satu orang guru laki-laki berinisial SS. Bukan dua guru perempuan, justru SS yang memberikan pendampingan kepada 16 siswi tersebut.
“Bapak guru (SS) itu memanggil siswi tersebut, ternyata kebablasan. Pertanyaan atau konten yang ditanyakan seharusnya dari sisi pembinaan pergaulan yang baik dari seorang konselor, tapi pertanyaannya menjurus ke arah yang bagi wanita sensitif,” paparnya.
Pihaknya mengungkap, pemanggilan 16 siswi itu berlangsung pada 24 September 2024.
2. 16 siswi langsung melapor ke kepsek, SS sudah akui kesalahannya
Tak terima dengan pertanyaan dan perkataan SS, 16 siswi itu langsung melayangkan laporan ke kepala sekolah. Bahkan, sehari setelah kejadian atau pada 25 September 2024, perwakilan orang tua datang menemui kepala sekolah untuk menyampaikan keberatan mereka.
“Ada satu wakil/orang tua datang tanggal 25 September menyampaikan keberatan kalau anaknya pelaku tanyai hal sensitif. Itu kan perbuatan tidak menyenangkan,” paparnya.
Saat perwakilan orang tua menyampaikan keberatannya kepada kepsek, Kustri mengaku SS telah meminta maaf kepada 16 siswi dan perwakilan orang tua yang hadir pada hari itu juga.
SS pun mengakui perbuatannya dan telah mendapat surat peringatan (SP) 1 dari kepala sekolah.
“Pada tanggal 25 September itu, anak-anak, guru (SS), dan orang tua sudah sempat ditemukan di sana. Guru sudah menyampaikan maaf kepada semua anak-anak, orang tua bisa memaafkan karena orang tua yang hadir sedikit. Siswa dan orang tua yang terwakili sudah memaafkan,” jelasnya.
BACA JUGA: Hendrar Prihadi Blusukan Bareng Aaf di Pekalongan, Tepis Isu Pemilih Terbelah di Pilgub Jawa Tengah
3. Sempat berdamai, orang tua yang tak terima gelar unjuk rasa pada 2 Oktober, minta pemindahan SS dari sekolah
Beberapa hari setelah SS mengakui kesalahannya, salah satu perwakilan orang tua yang tak hadir pada saat itu datang ke sekolah untuk melakukan unjuk rasa.
Dalam aksi unjuk rasa itu, orang tua yang menolak permintaan maaf SS meminta agar ia bisa sekolah pindahkan dari sana.
“Tanggal 2 Oktober ada unjuk rasa kecil-kecilan [oleh para orang tua siswa]. Tuntutannya agar mohon pindahkan guru tersebut. Saya langsung ke sana begitu ada demo,” ungkap Kustri.
4. Screening dan pendampingan berlanjut hingga saat ini
Pada 4 Oktober, psikolog turun langsung untuk melakukan screening kepada 16 siswi tersebut, yakni apakah masih ada kemarahan atau trauma yang terpendam atas kelakuan SS.
“Kami minta sekolah kooordinasi dengan psikolog, akhirnya Jumat tanggal 4 Oktober ada screening. Kumpulkan anak-anak, psikolog tanyai satu per satu apakah ada trauma. Kegiatan screening berlanjut, gak hanya pada tanggal 4 saja,” aku Kustri.
Lebih lanjut, Kustri pun memastikan SS tak melakukan kontak fisik pada keenambelas siswi tersebut.
“Kami memastikan bahwa kemarin saya tanya betul, guru itu tidak ada pernah membuat sentuhan apa pun. Menyentuh anaknya sama sekali tidak,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





