Viral

Fakta-fakta Pedagang Es Gabus Dituduh Pakai Spons Viral, Berujung Permintaan Maaf

×

Fakta-fakta Pedagang Es Gabus Dituduh Pakai Spons Viral, Berujung Permintaan Maaf

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi es gabus, kasus pedagang viral di Jakarta. (X/@ipopbase)
Ilustrasi es gabus, kasus pedagang viral di Jakarta. (X/@ipopbase)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus penjual es gabus dituduh menjual es berbahan spons viral di media sosial dan memicu kemarahan publik. Video tersebut menampilkan seorang pedagang es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, Suderajat (49), yang mendapat perlakuan tidak pantas dari oknum aparat.

Peristiwa ini kemudian berujung klarifikasi, hasil uji laboratorium, hingga permintaan maaf resmi.

Melansir dari berbagai sumber, berikut rangkuman fakta-fakta utama kasus pedagang es gabus Kemayoran yang viral:

1. Video Tuduhan Es Spons Viral di Media Sosial

Sebuah video memperlihatkan Suderajat dituduh menjual es gabus berbahan spons atau kapas. Video tersebut menyebar luas dan memicu reaksi keras netizen. Dalam video, tampak seorang anggota Bhabinkamtibmas dan oknum TNI membakar es kue milik pedagang.

Suderajat mengaku kejadian tersebut berlangsung pada Sabtu, 24 Januari 2026. Ia mengatakan sekitar lima orang mendatanginya dan mempertanyakan bahan serta asal usul es kue yang Suderajat jual.

2. Suderajat Tegaskan Es Gabus Asli dari Pabrik

Suderajat menegaskan es kue yang ia jual bukan berbahan spons. Ia mengaku mendapatkan pasokan es dari pabrik kawasan Depok. Ia juga telah berjualan es gabus selama sekitar 30 tahun tanpa masalah.

BACA JUGA: Viral Kasus Ibu Gantung Diri Ajak 2 Anaknya, Komisi VIII DPR RI Soroti Kemiskinan di Kebumen Jateng

3. Perusakan Dagangan

Meski telah memberikan penjelasan, sekelompok orang tersebut justru meremas dan menginjak dagangan es gabus hingga hancur. Suderajat menyebut seluruh dagangannya rusak.

4. Suderajat Alami Kekerasan Fisik

Suderajat mengaku menerima pemukulan dan tendangan saat kejadian berlangsung. Akibatnya, sebanyak 150 es gabus tidak bisa Suderajat jual dan menyebabkan kerugian ekonomi.

Pasca kejadian, Suderajat mengaku belum kembali berjualan selama tiga hari. Ia merasa trauma dan khawatir peristiwa serupa terulang.

5. Berawal dari Laporan Warga ke Call Center 110