SEMARANG, beritajateng.tv – Destinasi wisata Fort Willem I Ambarawa bakal semakin semarak dengan atraksi budaya. Kolaborasi lintas komunitas Ambarawa bakal menghadirkan Sendratari ‘Babad Fort Willem I.
Rencananya sendratari Babad Fort Willem I bakal menjadi kegiatan reguler bulanan di kawasan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tersebut dengan pertunjukan perdana pada Sabtu 17 Januari 2026.
Mewakili The Lawu Group, Marsono mengatakan, sendratari ini kolaboratif oleh komunitas seni serta para pegiat budaya di Ambarawa dan juga Salatiga.
Masing-masing Sanggar Kemrincing Art, Sanggar Nayanika, Legato Music dan The Lawu Group selaku pengelola Fort Willem I. Selain itu juga didukung Hanoman Art serta Javayo Production.
“Sendratari dikoreograferi oleh Ino Sanjaya dan tim pengajar Sanggar Kemrincing,” ungkapnya, dalam konferensi pers di Graha Mandala Cipta, kompleks Fort Willem I, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin 12 Januari 2025.
Sendratari ini bakal berlangsung di pelataran Graha Mandala Cipta, kompleks Fort Willem I Ambarawa. Oleh The Lawu Vroup selaku pengelola dan juga Hanoman Art lokasi ini bakal di permanenkan sebagai pusat kegiatan berkesenian.
BACA JUGA: Fort Willem I Ambarawa Makin Elok, Menteri AHY: Bisa Jadi Kekuatan Pariwisata Baru Berskala Dunia
Ini untuk melengkapi atraksi budaya di kawasan destinasi wisata Fort Willem I. Sekaligus juga wadah bagi para pelaku seni di Ambarawa dan sekitarnya.
Masih terkait sendratari, lanjutnya, untuk arranger di percayakan kepada Alrest Kentung dan tim kreatif Nayanika. Sementara penulis naskah dan sutradara oleh JP Awig Soedjatmika.
Untuk pelaksanaan yang perdana nanti, sendratari ini dapat tersaksikan secara gratis oleh pengunjung Fort Willem I. “Karena pengunjung hanya membayar tiket masuk kawasan seharga Rp 15.000,” jelasnya.
Sementara itu, pengelola Sanggar Kemrincing Ambarawa, Ino Sanjaya menambahkan, sesuai dengan sinopsis, sendratari ini mengangkat kisah sejarah pembangunan Fort Willem I berikut perjalanan fungsinya, dari masa kolonial dengan dinamika hingga pemanfaatan terkini.
“Dari sinopsis ini akan ada banyak kisah sejarah yang selama ini belum banyak masyarakat ketahui secara luas. Di balik keberadaan Fort Willem I Ambarawa,” jelasnya kepada awak media.
Kisah Fort Willem I, masih kata ino, bakal tersajikan melalui perpaduan seni tari, musikalitas, seni drama dan efek visual yang kuat. “Sehingga menjadikan Fort Willem I bukan sekedar arsip sejarah namun juga menghadirkan satu pengalaman estetik yang lebih hidup,” tambahnya.
Pada pagelaran sendratari perdana nanti, total bakal melibatkan 150 artis seni dari Ambarawa dan sekitarnya. “Ini mulai dari penari, pengiring serta para kru yang turut berkolaborasi,” tambahnya.
Yosep Bambang Trihardjono mewakili Hanoman Art menyampaikan, melihat sebagai peluang untuk berpartisipasi menghidupkan geliat berkesenian di kawasan Fort Willem I Ambarawa.
Sekaligus juga untuk mewadahi para pegiat seni budaya di Ambarawa dan sekitarnya. “Makanya Hanoman Art sangat mendukung pentas sendratari Babad Fort Willem I ini,” tambahnya.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata (Disparta) Kabupaten Semarang, Hendrastuti Ikasari menyambut baik digelarnya sendratari ini di kawasan destinasi wisata Fort Willem I Ambarawa ini.
BACA JUGA: Benteng Willem II Semarang, Saksi Bisu yang Terlupakan Kini Bicara
Menurutnya, kegiatan ini harapannya bisa menjadi strategi untuk menambah daya tarik kunjungan wisatawan sekaligus juga memberdayakan pegiat seni untuk berkreasi.
Karena pekerjaan rumah (PR) disparta saat ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan di Kabupaten Semarang, tetapi juga meningkatkan masa tinggal dan masa belanja wisatawan.
Data tahun 2024, masa tinggal wisatawan di Kabupaten Semarang rata- rata masih di angka 1,2 atau masih satu malam menginapnya. Demikian pula untuk belanja wisata masih rata- rata masih di bawah Rp50.000 per wisatawan.
Maka sendratari ini menjadi momentum yang tepat untuk bisa mendorong masa tinggal dan belanja wisatawan tersebut. “Terlebih saat ini tren peningkatan wisata budaya juga semakin bagus,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





