SEMARANG, beritajateng.tv – Tantangan besar masih dihadapi pendidikan tinggi Indonesia, khususnya terkait keterbatasan dosen berkualifikasi doktor (S3).
Untuk menopang transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), Indonesia perkiraan membutuhkan tambahan hingga 2,3 juta lulusan pascasarjana.
Staf Khusus Menteri Kemdiktisaintek, Prof. Badri Munir Sukoco, menjelaskan bahwa dengan jumlah mahasiswa nasional yang mendekati 10 juta orang, kebutuhan sumber daya akademik harus segera dipenuhi.
Dari total kebutuhan tersebut, idealnya sekitar 30-40 persen merupakan lulusan doktor (S-3), sementara sisanya bergelar magister (S-2).
“Dari 2,3 juta itu, idealnya sepertiga sampai 40 persen adalah S-3. Sisanya S-2,” ujar Prof Badri usai Soft Launching Jejaring Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) pada Selasa, 23 Desember 2025.
Ia menegaskan, kehadiran dosen bergelar doktor menjadi kunci dalam meningkatkan mutu perguruan tinggi sekaligus memperkuat riset nasional. Hingga kini, kebutuhan dosen S-3 di Indonesia menurutnya masih jauh dari ideal.
“Untuk konteks perguruan tinggi saja, kebutuhan dosen berkualifikasi S-3 itu masih cukup besar,” tegasnya.
Berdasarkan pemaparan data, perguruan tinggi dengan capaian dosen S-3 tertinggi di Indonesia adalah Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan persentase 64,54 persen.
Sementara 16 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) lainnya rata-rata masih berada di angka 45,16 persen.
Kondisi yang lebih rendah terlihat di PTN berstatus BLU dengan persentase dosen S-3 hanya 27,84 persen, disusul PTN satker sebesar 15,43 persen, serta lima besar PTS yang rata-rata baru mencapai 34 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Malaysia, yang dosennya seluruhnya telah berkualifikasi doktor.
Gap kebutuhan dosen doktor masih sangat besar
Sementara itu, Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Prof. Sri Suning Kusumawardani, menyebut kesenjangan kebutuhan doktor tersebut menjadi alasan utama penguatan jalur akademisi dan riset melalui Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
“Karena gap kebutuhan dosen doktor masih sangat besar dan belum optimal, maka kanal akademisi dan peneliti perlu kita perkuat,” ujarnya.
Program PMDSU yang berjalan sejak 2013 telah melahirkan doktor-doktor muda melalui pembinaan intensif, kolaborasi internasional, serta penguatan publikasi ilmiah.
Berdasarkan tracer study, 81 persen alumni PMDSU telah terserap sebagai dosen dan peneliti di perguruan tinggi maupun lembaga riset. Sisanya berkiprah di sektor industri dan luar negeri.
Hingga saat ini, PMDSU melibatkan 28 perguruan tinggi penyelenggara dengan total 1.719 mahasiswa, menghasilkan 3.164 publikasi internasional bereputasi, serta memperluas jejaring akademik global melalui program mobilitas dan kerja sama di 40 negara mitra PKPI.
BACA JUGA: Suster Pertama Peraih Gelar Doktor di Susteran Gedangan, Begini Kisah Bertha Rampungkan Studi S3
Program ini juga telah mencetak 873 alumni yang berpotensi besar dalam memperkuat regenerasi dosen dan peneliti nasional.
Karena itu, potensi lulusan PMDSU masih dapat teroptimalkan untuk mengisi kekurangan dosen doktor di dalam negeri.
“Sayang sekali jika potensi besar ini tidak kita bangun ekosistemnya agar bisa bertemu dengan perguruan tinggi dan lembaga riset yang membutuhkan,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi meluncurkan Jejaring Karier PMDSU, sebuah platform yang mempertemukan alumni PMDSU dengan perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan terkait. Platform ini terancang untuk memperkuat link and match berbasis data antara kebutuhan institusi dan kompetensi doktor muda.
“Jejaring Karier PMDSU bukan sistem penempatan kerja, melainkan instrumen fasilitasi kebijakan. Negara hadir untuk mempertemukan talenta doktor muda dengan kebutuhan institusi,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





