Indepth

Jejak Kelam Kos Bebas di Kota Semarang: Ancaman Preman ala Warga hingga Jadi Lokasi Bisnis Haram

×

Jejak Kelam Kos Bebas di Kota Semarang: Ancaman Preman ala Warga hingga Jadi Lokasi Bisnis Haram

Sebarkan artikel ini
Hotel Ramadan | Efisiensi Hotel | Kades Pati | Kos Bebas | ilustrasi kamar hotel | rumah produksi film dewasa | Hotel Kota Semarang
Ilustrasi kamar. (Foto: Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tiap tahunnya, lebih dari 10 ribu mahasiswa baru tiba dan menetap di Kota Semarang. Mereka sebagian besar tersebar di dua kampus top, yakni Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Hal itu jugalah yang kemudian memengaruhi jumlah persewaan kos-kosan. Kos di sekitar kampus punya beragam jenis, mulai dari kos khusus laki-laki dan kos khusus perempuan, hingga kos campur.

Desti (bukan nama sebenarnya), ialah admin suatu akun media sosial seputar informasi kos. Ia memiliki data lebih dari 1.000 info kos di Unnes dan sekitarnya. Kosnya pun terdiri dari berbagai jenis, dari yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Sebenarnya banyak kos bebas di Unnes, cuma enggak keliatan di promosinya,” katanya membuka obrolan.

Menemukan kos bebas di Unnes nyatanya memang tak semudah menemukan kos bebas di Undip. Unnes, kata Desti, memiliki lingkungan yang masih menyatu dengan perumahan warga.

Sehingga, para pemilik kos cukup berhati-hati dalam mempromosikan usahanya. Terhitung, hanya ada dua wilayah yang terkenal akan kos bebasnya, yaitu Gang Mangga dan Cempaka Pojok.

Hanya saja, lagi-lagi, kebanyakan kos bebas tak akan terang-terangan menempel spanduk “Kos Bebas/Campur” di depan rumah. Menurut Desti, ada satu alasan utama dari aksi kucing-kucingan itu. Yakni, menghindari ancaman penggrebekan dari warga.

“Soalnya dulu pernah ramai anak Unnes di kamar berdua cowok-cewek, eh digerebek warga. Terus warga minta duit Rp300 ribu buat tutup mulut,” sambungnya.

BACA JUGA: Cerita Pegawai Non-ASN Kecanduan Judi Online, ‘Nilep’ Kas RT Hingga Biaya PTSL Puluhan Juta

Kos bebas dengan CCTV 24 jam dari warga sekitar

Lingkungan sekitar Unnes memang masih terdapat banyak rumah warga. Berbeda dengan lingkungan sekitar Undip yang kebanyakan sudah menjadi kos mahasiswa.

Hal itulah yang Desti sebut sebagai alasan utama mengapa info kos bebas di sana tak pernah menyebar secara umum.

Ia mengibaratkan, kos bebas di Unnes sangat rahasia dan terbatas. Mulut ke mulut, serta bagi yang tahu-tahu saja.

Sekalinya info kos bebas tersebar, siap-siap saja akan ada sejumlah warga yang memantau layaknya CCTV 24 jam di sekitar gedung kos untuk melakukan penggrebekan.

Akan tetapi, lagi-lagi, penggrebekan itu bukan dengan niat mulia menegakkan moralitas anak bangsa. Namun, ada niat tertentu dari aksi penggrebekan itu.

“Selama aku di Unnes, aku belum pernah denger yang sampe bener-bener dilaporin; pasti ujung-ujungnya duit. Ancamannya soalnya dilaporin ke orang tua, jadi pasti mereka mau enggak mau bayar,” sebutnya.

BACA JUGA: Cerita Suratman Pemilik Rental di Jepara Ngaku Was-was Sewakan Mobil Usai Peristiwa di Pati

Jadi lokasi para pekerja seksual menemani pelanggannya

Fenomena kos bebas tak hanya digunakan untuk memadu kasih antara sepasang kekasih. Lebih jauh dari itu, kos jenis ini ternyata bisa menjadi lokasi bisnis haram.

Wahid (bukan nama sebenarnya), merupakan makelar kos di Kota Semarang. Sama seperti Desti, Wahid punya ribuan informasi kos di sekitar Semarang.

Ia pun paham betul drama-drama yang terjadi di kos bebas. Salah satunya yang cukup mencenangkan, ada kos bebas yang biasa menjadi lokasi para Wanita Pekerja Seksual (WPS) atau yang belakangan terkenal bernama open booking online (open BO).

“Ada satu kos eksklusif di Semarang yang jadi tempatnya cewek-cewek open BO, banyak yang mahasiswa juga kok,” ungkap Wahid.

Wahid sebenarnya cukup hati-hati dengan informasi kos bebas ini. Ia tak berani secara pasti menyebut nama dan lokasi kos. Sebab, sekalinya terungkap, seluruh mahasiswa atau pencari kos pasti tahu kos yang satu ini.

Uniknya, kos bebas ini mengetahui pasti apa latar belakang penghuninya. Bahkan, pengelola kos menyediakan tarif khusus untuk penghuni istimewanya itu.

Tarif khusus itu seolah menjadi uang tutup mata, uang tutup mulut, hingga uang keamanan. Pengelola juga tak lagi kaget jika ada penghuninya yang membawa teman lelaki berbeda tiap harinya.

“Misal kalau penghuni biasa, sewa bulanan paling Rp3 juta. Nah, dia akan kasih tarif khusus untuk penghuni yang open BO, lebih mahal,” ucap Wahid.

BACA JUGA: Dari Beda Agama hingga Belum Siap Mental, Ini Alasan Anak Muda Semarang Enggan Menikah di Usia Muda

Syarat wajib serahkan buku nikah

Kos bebas-campur memang memiliki segudang drama dan permasalahan. Hal itu diamini juga oleh pemilik kos, Andi (bukan nama sebenarnya).

Dulunya Andi memang menyewakan kos bebas. Siapa pun bisa menginap dan tinggal bersama, termasuk pasangan kekasih yang belum menikah.

Hanya saja, Andi mengaku kapok. Sebab, ada saja masalah yang ia alami selama mengizinkan pasangan kekasih tinggal bersama.

Kini, ia pun membuat satu syarat utama jika ingin tinggal berdua. Penyewa wajib menyerahkan buku nikah.

“Ada aja masalah, seperti bayar kos nunggak, hewan peliharaan diabaikan, dan lain-lain. Jadi sekarang untuk lawan jenis yang belum resmi tidak bisa,” katanya.

Di balik gelapnya dunia kos bebas, tentu hal itu tak sepenuhnya kelam. Mengingat, peruntukannya sebenarnya menyasar bagi pasangan suami-istri muda.

Misalnya, Naya (bukan nama sebenarnya). Ia bersama sang suami merasa terbantu dengan adanya kos semacam itu. Keduanya bisa tinggal bareng berdua sembari belajar membangun bahtera rumah tangga.

“Milih kos bebas sebenarnya karena biar bisa tinggal mandiri sama suami, berdua, enggak ikut orang tua lagi,” kata Naya.

Beruntung, kos yang Naya tempati jauh dari drama-drama di luar kepala. Kendalanya sejauh ini hanya parkiran yang sempit.

Selain masalah itu, ia cukup puas tinggal di kos bebas bersama sang suami. Dengan harga Rp750 ribu per bulan saja, keduanya bisa mendapat ruangan dengan fasilitas memuaskan. Seperti ukuran ruangan yang besar, kamar mandi dalam, kipas angin, hingga dapur mini.

“Aku sama suami sama-sama kerja, berangkat pagi pulang sore, abis itu di kamar aja. Jadi selama ini enggak pernah ngerasain drama aneh-aneh,” akunya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp