Indepth

Dari Beda Agama hingga Belum Siap Mental, Ini Alasan Anak Muda Semarang Enggan Menikah di Usia Muda

×

Dari Beda Agama hingga Belum Siap Mental, Ini Alasan Anak Muda Semarang Enggan Menikah di Usia Muda

Sebarkan artikel ini
pasangan menikah Pernikahan | Viral Marriage
Ilustrasi pasangan. (Foto: Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Angka pernikahan di Jawa Tengah terus mengalami penurunan. Banyak anak muda di Kota Semarang enggan menikah di usia muda. Salah satunya, Anisa Farah.

Wanita berusia 35 tahun itu mengaku sengaja menunda menikah meski telah berusia kepala tiga. Menurutnya, tidak semua pasangan berniat melanjutkan hubungan hingga pernikahan.

Apalagi, ketika pasangan tersebut menghadapi beberapa kendala, seperti faktor keluarga, kepercayaan, hingga kesiapan finansial.

“Kalau kita terkendala beda agama. Karena aturannya kan harus nikah seagama. Ya sudah kita komitmen bareng-bareng, memang berpasangan tapi tidak berniat secara legal,” ungkap Farah kepada beritajateng.tv.

Farah pun memiliki pandangannya sendiri tentang pernikahan. Menurutnya, standar pernikahan di Indonesia hanyalah konstruksi sosial.

BACA JUGA: Catat Statistik Perkawinan 3 Tahun Terakhir, BPS Jateng: Angka Pernikahan Turun, Cerai Meningkat

Hal tersebutlah yang kemudian menyebabkan banyak masyarakat yang terbiasa mepertanyakan status pernikahan kepada orang lain. Termasuk kepada dirinya.

“Dampaknya ke stereotipe masyarakat. Tapi selama yang menjalani kita bersama, omongan orang lain bodo amat. Karena kita juga punya hak. Yang terpenting kita menjalani dengan bahagia,” lanjut Farah.

Sementara itu, Dekara Putri, juga masih belum berniat untuk menikah. Wanita berusia 27 tahun itu mengaku masih ingin fokus dalam mengembangkan diri sendiri.

Ara, sapaan akrabnya, berpendapat, pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Terlebih, jika kedua belah pihak antara perempuan dan laki-laki belum siap secara finansial, maupun mental.

“Soalnya untuk menuju itu harus dipikirkan baik-baik. Tidak sembarangan, kan pernikahan untuk seumur hidup,” ucap Ara.

Stigma buruk menunda pernikahan

Dirinya pun menambahkan, lantaran menunda menikah hingga di usia 27 tahun ini, ia kerap mendapat stigma buruk oleh tetangga sekitar. Bahkan, dari anggota keluarganya sendiri.

Padahal, menurut Ara, menikah bukanlah suatu kewajiban bagi seseorang. Ia beranggapan menikah dapat menghambat pekerjaan, kewajiban, hingga aktivitasnya sehari-sehari.

“Kalau dorongan dari orang tua ada, suruh cepet nikah. Sampai tetangga-tetangga juga pada jodoh-jodohin. Tapi kan orang punya waktu masing-masing,” imbuhnya.

BACA JUGA: Angka Perceraian di Jateng Meningkat dari Tahun ke Tahun, Psikolog Beberkan Faktor Penyebabnya

Lebih lanjut, ia juga menganggap tren pernikahan sudah bergeser seiring berkembangnya zaman. Apalagi munculnya tren childfree.

Bahkan, jika kemudian ia menikah, ia akan berkomitmen untuk childfree.

“Saya masih bebas melakukan apa pun, menghabiskan uang untuk diri saya sendiri. Dan saya belum siap untuk membagi dengan orang lain,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp