Tak hanya soal warna, Putri melihat sebagian konsumen mulai memperhatikan aspek lingkungan dalam memilih produk fesyen. Mereka tidak sekadar mempertimbangkan tampilan pakaian, tetapi juga mulai ingin mengetahui bahan serta proses pembuatannya dan dampaknya terhadap lingkungan.
“Orang yang sudah menyadari fesyen yang memperhatikan lingkungan. Ketika kita mengenakan pakaian itu juga enggak asal, tapi memperhatikan dari mana dibuat, bagaimana prosesnya, berdampak enggak buat lingkungan,” katanya.
Produk Batik Dikembangkan Jadi Aksesori
Selain kain dan pakaian, Putri bilang, Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon mengembangkan sekitar 10 jenis produk, termasuk syal, anting dan kalung.
Pengrajin juga memanfaatkan limbah untuk menghasilkan produk baru. Salah satunya berupa handbag yang dibuat dari limbah karung plastik bekas pakan hewan peliharaan yang telah melalui proses sterilisasi.
Limbah tersebut kemudian dipadukan dengan perca kain batik sehingga menghasilkan produk fesyen baru.
“Limbah karung plastik kami sterilkan lalu digabungkan dengan perca kain batik. Jadilah handbag,” kata Putri.
Menurutnya, pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari upaya pengrajin untuk tidak membuang begitu saja sisa material dari proses produksi batik.
Pameran Jadi Ajang Kenalkan Batik Malon
Bagi para pengrajin, keikutsertaan dalam pameran selama MTQ Nasional XXXI di Semarang tidak semata-mata mengejar transaksi penjualan.
Putri mengatakan, pameran menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk batik warna alam Malon kepada pasar yang lebih luas.
BACA JUGA: Two in One Imlek-Ramadan, Danar Hadi Padukan Keberagaman Bunga Nusantara dalam Balutan Batik
“Kalau pameran itu buat kami promosi. Kalau ada sales atau penjualan itu bonus. Utamanya pastinya promosi, upaya kami menjangkau pasar, upaya kami mendekatkan kepada pasar,” katanya.
Hal itu penting, kata Putri, karena sentra batik warna alam tersebut berada di Gunungpati yang berjarak sekitar satu jam dari pusat Kota Semarang.





