Menariknya, kata Putri, karakter konsumen batik warna alam tidak selalu bisa dibatasi berdasarkan usia. Sebagai contoh, katanya, saat mengikuti pameran di Jakarta, misalnya, produk mereka juga diminati kalangan anak muda.
“Ketika kami pameran di Jakarta, anak muda pun beli. Jadi akhirnya kami lebih mengerucut pada siapa pun orang yang memang cenderung punya preferensi warna lembut, soft, natural atau orang yang sudah aware,” ucap dia.
Putri berharap kegiatan pameran di kawasan pusat Kota Semarang dapat semakin sering digelar. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha di daerah untuk lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mengenalkan produk lokal.
“Ini momen penting supaya aset pemerintah seperti ini lebih banyak acara yang digelar di sini, supaya masyarakat kembali lagi ke sini. Karena sebenarnya sangat strategis di tengah kota,” katanya.
Paguyuban Galeri Sentra Batik Warna Alam Malon terdiri dari beberapa kelompok pengrajin, yakni kelompok pengrajin batik Si Putri, Kalialang Batik, Roslina Batik, Batik Malon, Zie Batik, dan Canting Mas Batik. (*)
Editor: Diaz A Abidin





