Ia mengaku pihaknya telah menguhubungi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) hingga Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.
“Kami juga mencoba menghubungi DPP melalui WhatsApp, DM Instagram, bahkan menyampaikan langsung kepada Kaesang, namun tidak ada tanggapan,” ungkapnya.
BACA JUGA: PSI Semarang Dorong RUU Perampasan Aset Jadi Senjata Lawan Korupsi dan Kejahatan Lintas Sektor
Ketua DPC PSI Semarang Tengah, Teguh Pambudi, menegaskan bahwa pemberhentian Bangkit Mahanantiyo dan penunjukan Plt tersebut sebagai bentuk arogansi DPW PSI Jawa Tengah.
Menurutnya, DPW seharusnya berperan sebagai jembatan komunikasi antara DPC dan DPP, bukan justru menimbulkan kebingungan di internal partai berlambang gajah tersebut.
“Tapi kenyataannya bagaimana? DPW tidak mampu menjadi jembatan. Bahkan terkesan bingung dengan kondisi yang terjadi. Terakhir yang saya ingat, beliau hanya mengatakan, ‘Tanya saja ke DPP.’ Bagi saya, itu jawaban yang ambigu,” ujar Teguh.
Ia menegaskan, alasan utama pengunduran diri para DPC adalah penunjukan Plt yang menggantikan Bangkit Mahanantiyo tanpa penjelasan dan dasar yang jelas.
“Sejak awal kami mempertanyakan kenapa ketua kami, Bangkit Mahanantiyo, jadi Plt tanpa sebab dan alasan yang kuat. Kami menilai itu sebagai bentuk arogansi DPW [Jawa Tengah],” tegasnya.
Mosi Tidak Percaya Saat Rakerda PSI
Sebelum aksi pengunduran diri massal ini, 13 DPC tersebut telah menyatakan mosi tidak percaya saat rapat kerja daerah (rakerda) dengan agenda serah terima jabatan (sertijab) di Triizz Hotel Semarang pada Minggu, 11 Januari 2026 lalu.
Dalam forum tersebut, 13 dari 16 DPC memilih walk out sebagai bentuk protes dan menyatakan mosi tidak percaya terhadap surat keputusan (SK) kepengurusan DPD yang kembali menetapkan Melly Pangestu sebagai Sekretaris.
Menurut pernyataan para ketua DPC saat itu, nama sekretaris dan bendahara yang ada di dalam SK tidak sesuai dengan ketentuan awal yang telah anggota sepakati dan setujui. Bahkan, mereka menyampaikan adanya dugaan sabotase dan intervensi terkait SK susunan pengurus yang baru.




