Sejak zaman saya sekolah, study tour sejak dulu menjadi kegiatan rutin setiap tahun. Banyak sekolah yang menjadikan study tour dan kegiatan lainnya seperti field trip, life in, dan lain sebagainya sebagai bagian pembelajaran luar kelas. Siswa tentu tak cukup hanya mendapatkan materi pelajaran dalam kelas yang sering hanya bersifat teori.
Lebih dari itu, study tour dan kegiatan luar kelas lain bisa menjadi sarana pembentukan karakter, pengenalan lingkungan dan masyarakat, hingga mengenal lebih dekat Indonesia.
Kegiatan study tour idealnya tak sekedar refreshing. Berwisata ke tempat-tempat viral untuk berfoto selfie guna kebutuhan media sosial. Siswa bisa ke museum dan tempat bersejarah untuk membangkitkan nasionalisme. Ini bisa menjadi wisata edukasi bagi siswa.
Study tour memang kadang menyertakan agenda ke tempat wisata. Namun apa salahnya berkunjung ke destinasi wisata?
Masih melekat di ingatan saya saat study tour SMP dulu. Kami masuk ke Monas yang dalamnya ada diorama Indonesia sejak zaman Kerajaan hingga Kemerdekaan. Saat itulah untuk pertama kalinya saya masuk Monas. Kemudian agenda kunjungan (bahasa sekarang itinerary) adalah ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan melihat berbagai anjungan provinsi dari seluruh Indonesia.
BACA JUGA: Larangan Study Tour di Jawa Tengah Masih Atas Kebijakan Ganjar, Siswa Disebut Setuju Tetap Ada
Saat SMA, kami seangkatan study tour ke Pulau Dewata Bali. Beberapa teman sekolah saat itu mengakui baru pertama berkunjung ke Bali. Jika tak ada study tour, mungkin beberapa dari kami tak sempat wisata ke pulau yang terkenal seantero dunia tersebut. Meski saat itu travel agent hanya membawa kami ke destinasi yang sebagian besar tak berbayar, seperti mampir di Kintamani dan melihat sunset di Pantai Kuta. Hati sudah cukup senang.


