“Orang tua mendukung, jadi kepsek sudah sepakat. Kemudian pihak sekolah mendata, yang miskin sekitar 80-an lebih gausah membayar (infak). Mushola itu berdiri di atas tanah komite, hasil dari sumbangan orang tua. Jadi bukan tanahnya pemerintah itu awalnya. Itu sumbangan komite yang dikumpulkan dari sumbangan orang tua. Sudah mulai dari 2018 sampai dengan 2020. Komite sekolah itu bisa menyumbang Rp 975 juta, hampir Rp 1 M kemudian dibelikan tanah,” papar Zainal.
Bagi Zainal, cara sekolah mengumpulkan uang untuk pembangunan sarana prasarana yang tidak layak itu sudah benar. Mekanisme yang pihak sekolah lalui pun telah mengacu peraturan yang berlaku.
“Cara memungut sumbangan itu saya cek di sana ternyata sudah benar, karena untuk sumbangan, menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 75 Tahun 2016 Tentang Komite Sekolah, komite itu boleh menarik sumbangan dari orang tua. Mekanismenya itu diundang dulu, dirapatkan orang tua, dan sudah disepakati. Jadi gak ada kesalahan sebetulnya dari kepala sekolah,” tegasnya.
BACA JUGA: Soroti Langkah Ganjar Copot Kepala SMKN 1 Sale, Ketua PGRI Jateng: Apakah Itu Pilihan Terbaik?
Buntut putusan Ganjar, tak ada guru dan siswa yang berani angkat bicara
Alih-alih melakukan protes dan klarifikasi terhadap putusan Ganjar, seluruh guru maupun siswa SMKN 1 Sale tidak berani untuk angkat bicara.
“Ya kalau saya tidak tanya, karena mereka pada diam, tutup mulut lah istilahnya seperti ketakutan. Jadi ketika Pak Widodo pada Januari 2021 menjadi kepsek, yang jelas papan nama SMK saja gak ada, karena memang desa banget tempatnya,” terangnya.
Kehadiran Widodo di SMKN 1 Sale, menurut penelusuran Zainal, telah menghadirkan banyak perubahan. Sehingga ia sangat menyayangkan keputusan Ganjar yang cenderung tergesa-gesa.
“Tapi sekarang sangat pesat kemajuannya, karena dia memang pintar bermitra dengan beberapa perusahaan, sehingga bantu jalannya, yang tadinya orang lewat saja kepleset-pleset karena batuan, tapi sekarang sudah bagus. Saya menyayangkan sikap Pak Ganjar yang memecat tanpa melakukan klarifikasi,” terangnya.





