SEMARANG, beritajateng.tv – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang telah memulai proses perakitan kotak suara untuk Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Semarang 2024 yang akan terlaksana pada November mendatang.
Total ada 4.748 kotak suara yang akan KPU rakit, dengan melibatkan 50 pekerja yang terbagi dalam kelompok masing-masing lima orang. KPU sendiri menargetkan pelipatan kotak suara ini selesai dalam waktu dua hari.
“Pelipatan mulai hari ini dan besok. Kami targetkan bisa menyelesaikan dalam dua hari. Dengan melibatkan 50 tenaga perakitan,” ujar Agung Nugroho, anggota KPU Kota Semarang, pada Kamis, 17 Oktober 2024.
BACA JUGA: KPU Kota Semarang Buka Pendaftaran KPPS, Ini Kriteria dan Persyaratannya
Agung menjelaskan bahwa setiap harinya, KPU menargetkan untuk merakit 2.400 kotak suara. Setiap pekerja akan di bayar sebesar Rp 2.000 per kotak.
Sistem pembayaran akan ada pengawasan dan pencatatan oleh petugas KPU. Hal ini untuk memastikan akurasi jumlah kotak suara yang berhasil di lipat oleh setiap kelompok.
“Pengawasan ini tidak secara ketat karena hanya pada tahap perakitan kotak yang termasuk ke dalam logistik tahap pertama. Namun, pengawasan yang lebih ketat akan kita lakukan saat proses pelipatan surat suara dimulai,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa produksi surat suara untuk Pilwalkot Semarang baru akan mulai pada 28 Oktober. KPU juga meminta agar distribusi atau pengiriman kotak suara ke gudang logistik di percepat. Mengingat daftar pemilih tetap (DPT) di Semarang cukup banyak.
“Surat suara di produksi pada 28 Oktober, dan kami harap dapat terkirim secepatnya karena DPT di sini cukup besar,” tambah Agung.
Surat Suara
Desain surat suara untuk Pilwalkot telah disetujui oleh KPU RI dan tidak memerlukan perbaikan. Untuk pengiriman, semua logistik Pilwalkot akan dikemas H-3 sebelum pelaksanaan pemungutan suara.
Hal ini meliputi packing tinta, surat suara, dan perlengkapan lainnya yang akan KPU kirim ke kecamatan, dan H-1 ke tempat pemungutan suara (TPS).
Salah satu pekerja perakit kotak suara, Arif Budianto (45) mengaku mengikuti kegiatan ini untuk mencari kesibukan dan menambah penghasilan selama libur bekerja. “Ini saat off kerja, jadi saya sengaja ikut agar bisa dapat cuan,” ungkap warga Semarang Timur ini.
Arif menambahkan bahwa dalam sehari, kelompoknya dapat merakit sekitar 800 kotak suara. Dengan bayaran Rp 2.000 per kotak, mereka merasa kegiatan ini berjalan lancar. “Tidak ada kesulitan, kebetulan saya sudah pernah ikut saat pilpres sebelumnya,” tutupnya. (*)





