Sejauh ini, dia mencatat, tidak ada warga yang mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berarti.
Hanya saja, ada beberapa orang mengalami demam usai divaksin booster. Hal itu dinilai masih wajar.
“Saat diberi V1 Sinovac aman, V2 Sinovac aman, V3 Astrazeneca dosis separo ternyata demam. Memang yang namanya efrk samping vaksin tidak semua tubuh manusia sama. Sebagian besar tidak mengalami, sebagian kecil semlenget. Itu wajar karena jenis vaksin yang dimasukan berbeda, heterolog, Sinovac-Sinovac-Astrazeneca,” jelas Hakam.
Pihaknya tentu melakukan skrinung terlebihdahulu sebelum dilakukan vaksinasi untuk meminimalisir terjadinya KIPI.
Jika sasarab belum bisa dilakukan vaksinasi, petugas akan menunda pemberian vaksin, misalnya karena memiliki komorbid, tensi daeah ringgi, kadar gula tinggi.
“Itu harus konsultasi dengan dokter spesialis. Tubuh seseorang itu beda. Kadang, sama-sama tensi tinggi, satu orang demam, satu tidak. Itu tergantung dari seminggu sebelum dia melakukan vaksinasi, disiplin prokes jd kunci utama,” terangnya. (Ak/El)





