SEMARANG, beritajateng.tv – Ada banyak jenis konten yang tersebar di media sosial, mulai dari makanan, make up, hingga teknologi. Namun, dari sekian konten kreator, ada satu konten kreator dari Kota Semarang yang berkomitmen menyajikan konten dengan value eksklusif dan mendidik. Mozes Christian Budiono namanya, seorang pemerhati sejarah.
Dengan nama akun Instagram @mo_zes dan Tiktok @mozeschristian, Mozes sukses menyajikan cerita-cerita sejarah dengan lebih ringan dan menghibur.
Seperti kontennya yang berjudul Cerita Penyintas Kamp Interniran Lampersari, Bersiap di Semarang, hingga Saat Jepang Mendarat di Krangan.
Sejak kecil, Mozes memang sudah menunjukkan ketertarikan dalam berbagai literatur sejarah. Barulah saat menempuh pendidikan tinggi di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Mozes akhirnya memulai perjalanannya untuk menjadi konten kreator sejarah.
“Aku lebih mendalami lagi setelah tugas kuliah disuruh buat film dokumenter tentang tempat-tempat bersejarah di Kota Semarang. Waktu itu buat soal Ereveld Kalibanteng,” jelas Mozes saat beritajateng.tv temui, Sabtu, 6 Januari 2024.
Setelah itu, Mozes merasa banyak sekali hal atau sejarah di Kota Semarang yang belum dibahas secara luas. Padahal, banyak peristiwa yang menggambarkan kondisi Kota Semarang saat masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Mozes pun kini lebih fokus untuk mengulik peristiwa-peristiwa atau tempat-tempat bersejarah di sekitar Kota Semarang pada rentang tahun 1942 hingga 1950. Itulah saat-saat penting bagi kemerdekaan Republik Indonesia.
“Zaman itu cuma fokus perang-perang aja. Bahwa Belanda jahat, Jepang jahat, gitu aja itu awal mulanya tertarik, ingin mendalami biar semua orang juga mengetahui sejarah daerahnya sendiri,” imbuhnya.
Mozes cari materi sejarah hingga website Belanda, Jepang, dan Inggris
Selama menyajikan konten sejarah, Mozes tentu tak jarang mendapat sejumlah hambatan. Misalnya, literatur bacaan yang pastinya tidak bisa berpatokan pada satu sumber saja.
Apalagi, Indonesia belum cukup rapi dan serius dalam menata arsip-arsip lamanya. Mozes malah lebih sering mencari sumber dari website Belanda, Jepang dan Inggris.
“Kalau kesulitan lebih ke males karena kadang arsip-arsip itu nggak cuma 1 halaman, bisa 2-3 halaman. Apalagi kalau arsip modelan scan-scan-an aku agak kesulitan harus mengetik satu-satu untuk translate bahasa Belandanya,” tuturnya.
BACA JUGA: Menilik Kisah Masjid Kyai Sholeh Darat, Tempat Ulama dan Pahlawan Nasional Belajar Mengaji
Melalui konten-konten sejarahnya, Mozes ingin menunjukkan jika peristiwa yang terjadi pada tahun 1942 hingga 1950 bukanlah sekadar hitam dan putih. Banyak kisah-kisah yang tak terungkap.
Misalnya sosok Douwes Dekker dan Johannes Van Der Steur yang memiliki kepedulian terhadap rakyat Indonesia meskipun berwarganegaraan Belanda.
“Kalau aku prinsipnya, jangan mewariskan dendam biar persepsi generasi ke bawah itu enggak punya rasa dendam ke Belanda, toh kita sudah tidak berperang,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





