SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mencatat ribuan warga masih mengungsi akibat banjir yang melanda kawasan Pantura. Hingga Kamis, 22 Januari 2026, banjir masih terjadi di sejumlah wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kudus, dan Pati.
Kepala Pelaksana Harian (Klakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyampaikan jumlah pengungsi di Kabupaten Pekalongan mencapai sekitar 1.800 jiwa. Sementara di Kota Pekalongan, jumlah pengungsi masih berada di kisaran 2.000 orang.
“Untuk Pekalongan Kabupaten sekitar 1.800-an. Yang masih tinggi itu di Kota Pekalongan, masih 2.000 sekian,” ujar Bergas saat beritajateng.tv jumpai di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 22 Januari 2026 sore.
Selain Pekalongan, BPBD mencatat pengungsi di Kudus masih sekitar 2.200 jiwa, sedangkan di Pati sekitar 1.100 jiwa. Adapun kondisi di Jepara, kata Bergas, sudah tidak terdapat genangan banjir.
“Itu pengungsi semua. Kudus masih 2.200, Pati masih 1.100, Jepara sudah enggak ada,” katanya.
Bergas menjelaskan, jumlah warga terdampak sebenarnya jauh lebih besar daripada angka pengungsi. Hal itu dipengaruhi luapan sejumlah sungai di wilayah Pantura.
BACA JUGA: Atasi Banjir Pantura, Pemprov Jateng Ajukan Bantuan Pusat: Demak Rp1,7 Triliun, Pekalongan Rp1,5 Triliun
“Kalau bicara terdampak, tentu lebih luas. Di Pekalongan itu luapan Sungai Bremi-Meduri, kalau di Pati dan Kudus itu luapan Sungai Juwana,” ujarnya.
Terkait kerugian, BPBD Jawa Tengah belum melakukan perhitungan resmi. Namun Bergas menegaskan dampak ekonomi akibat banjir sangat besar, bahkan hanya dari sisi kerugian rumah tangga.
“Satu rumah saja kena banjir, minimal kerugian masyarakat itu sekitar Rp2 juta. Kalau ada seribu rumah, tinggal kalikan saja. Itu baru aset masyarakat, belum sawah, belum infrastruktur, belum fasilitas umum,” jelasnya.
Menurut Bergas, penanganan bencana saat ini masih fokus pada fase darurat, dengan keselamatan warga sebagai prioritas utama. Selain evakuasi, pemerintah juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
Tempat pengungsian, kata Bergas, seluruhnya menggunakan bangunan permanen seperti sekolah, masjid, dan aula, bukan tenda darurat.
“Keselamatan warga masyarakat nomor satu. Evakuasi sudah dilakukan oleh BPBD, relawan, TNI, dan Polri, khususnya untuk kelompok rentan. Kebutuhan dasar mulai dari pangan, makan, minum, sampai tempat pengungsian sudah mendapat support. Pangannya dari Kemensos, Dinas Sosial, PMI, Baznas, dan masyarakat, itu sudah luar biasa,” kata Bergas.
Modifikasi Cuaca Jadi Upaya Utama Tangani Banjir Pantura
Untuk mempercepat surutnya banjir, BPBD Jawa Tengah bersama BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). OMC tersebut telah berlangsung sejak 15 Januari dan perpanjangan hingga 24 Januari 2026.
“Dari tanggal 20 kemarin diperpanjang sampai tanggal 24. Nanti dilihat lagi kondisi cuaca berikutnya. Kalau diperlukan, OMC bisa dilakukan kembali,” ujarnya.
Mengenai kondisi tanggul, Bergas menyebut tidak ada tanggul jebol di wilayah Pati. Banjir di daerah tersebut terjadi akibat limpasan debit air yang tinggi. Sementara di Kudus, sebelumnya sempat terjadi tanggul jebol dan telah pemerintah daerah dan masyarakat tangani secara darurat.
“Kalau di Bremi-Meduri itu bukan jebol, tapi melimpas. Maka dilakukan peninggian tanggul,” katanya.
BACA JUGA: Banjir Pekalongan Belum Surut, 59 Ribu Jiwa Terdampak, Hampir 2 Orang Ribu Mengungsi
Bergas juga mengingatkan bahwa wilayah Pantura dan Pansela mutlak merupakan daerah langganan banjir saat memasuki musim penghujan, khususnya di kawasan hilir sungai.
Sementara itu, kata dia, daerah pegunungan lebih rentan terhadap bencana longsor. Hal itu ia ungkap saat menanggapi terkait pemetaan bencana di Jawa Tengah.
“Kalau yang jelas, yang kena pemetaan banjir itu satu, daerah aliran sungai, yang kedua daerah hilir. Mau Pantura itu pasti kena, Pansela itu pasti kena. Kalau yang di gunung itu agak susah itu kalau bicara banjir, tapi kenanya longsor,” ucap Bergas.
Bergas Ungkap Sudah Banyak Bencana di Awal dan Pertengahan Januari 2026
Selama dua pekan pertama Januari 2026, BPBD Jawa Tengah mencatat kejadian bencana berlangsung masif dan tersebar di banyak daerah. Bergas menyebut intensitas dan jumlah kejadian meningkat tajam, terutama bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
“Banyak sekali. Kalau bicara longsor saja, tadi Pak Wakil Gubernur sampaikan, di Jepara ada sekitar 30 titik longsor. Apakah di Kudus tidak ada? Ada, kurang lebih juga sebanyak itu. Di Pati juga ada,” ujar Bergas.
Menurutnya, meski terjadi di banyak lokasi, tingkat dampak bencana tidak selalu sama. Ada kejadian yang hanya menutup akses jalan dan bisa warga tangani secara mandiri, namun ada pula yang berdampak besar hingga merusak rumah warga dan membutuhkan penanganan berat.
BACA JUGA: Trauma Banjir, Warga Desak Normalisasi Sungai Plumbon dan Soroti EWS Tak Berfungsi
“Intensitas dan kuantitasnya berbeda-beda. Ada yang cuma nutupi jalan, ada yang kena rumah. Yang kecil-kecil bisa masyarakat tangani, tapi yang besar tetap harus pakai alat berat. Seperti di Jepara, itu semuanya pakai alat berat untuk membuka jalan,” jelasnya.
Bergas menegaskan, pemerintah daerah bersama unsur terkait berupaya merespons cepat setiap kejadian bencana. Namun, ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, terutama di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi.
“Kami mengimbau masyarakat, saat cuaca ekstrem seyogyanya sudah punya rencana. Menginformasikan kondisi, menyiapkan jalur evakuasi, dan memikirkan ke mana harus menyelamatkan diri,” pungkas Bergas. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





