SEMARANG, beritajateng.tv – Film bioskop terbaru 2026 berjudul Sadali kini adaptasi dari sebuah buku karya Pidi Baiq.
Sehingga bagi para penggemar karya Pidi Baiq tentu tidak akan asing dengan judul film yang satu ini.
Kisahnya menceritakan bagaimana kehidupan seorang pria asal Sumatra Barat yang mengejar mimpinya di Yogyakarta.
BACA JUGA: Dalam Rangka Menyambut Ramadhan, Berikut Daftar Film Religi yang Tayang di Netflix
Bagi kamu yang tertarik buat nonton film tersebut, simak informasi lengkapnya seputar review dari film yang satu ini.
Review Film Sadali 2026
Film Sadali berlatar tiga tahun setelah peristiwa yang terjadi dalam Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu.
Menariknya, penonton masih dapat memahami alur cerita meskipun belum menonton film sebelumnya.
Sejumlah adegan penting dari film terdahulu hadir kembali melalui kilas balik.
Pendekatan ini menjadi penghubung naratif yang membantu menyusun potongan cerita, sehingga perjalanan emosional Sadali tetap terasa menyeluruh.
Rentang tiga tahun mungkin terasa singkat bagi sebagian orang. Namun, Kuntz Agus mampu menghadirkan nuansa yang berbeda, salah satunya melalui perubahan karakter Mera.
Penampilannya tampak lebih dewasa, terlihat dari gaya rambut hingga ekspresi wajah yang lebih dalam dibandingkan masa sebelumnya.
Sikap Mera kini terlihat lebih tenang, meskipun masih menyimpan konflik batin yang belum terselesaikan.
Dalam menggambarkan pergulatan emosi, cinta yang terpendam, serta kenangan yang belum sepenuhnya hilang, Adinia Wirasti tampil dengan sangat meyakinkan.
Tokoh Sadali menghadirkan peran Ajil Ditto mengingatkan pada figur Dilan dalam versi yang sedikit lebih dewasa lebih matang, tetapi belum sepenuhnya mapan.
Dalam film ini, Sadali masih tergambarkan sebagai sosok yang emosional dan mudah terombang-ambing oleh persoalan perasaan.
BACA JUGA: Daftar 3 Film Terbaru yang Tayang di Netflix 2026, Sudah Nonton Belum?
Arah hidupnya pun belum menunjukkan kestabilan, sementara karya seninya sangat terpengaruh oleh suasana hati.
Semakin dalam konflik batin yang ia rasakan, semakin kabur pula jati diri seni yang dihasilkannya.
Karakter ini terkadang terasa menyebalkan namun juga menggemaskan, yang justru menjadi pesona tersendiri. (*)





