Pendidikan

Tanpa Knalpot di Sekolah: Siswa dan Guru SMAN 1 Tengaran Kompak Jalan Kaki dan Bersepeda

×

Tanpa Knalpot di Sekolah: Siswa dan Guru SMAN 1 Tengaran Kompak Jalan Kaki dan Bersepeda

Sebarkan artikel ini
Siswa SMAN 11 Semarang
Pemandangan siswa yang akan memulai aktivitas belajar pada aksi Sehari Benas Asap Kendaraan, di lingkungan SMAN 1 Tengaran, Kabupaten Semarang, Selasa, 3 Februari 2026. (Dok. SMAN 1 Tengaran)

SEMARANG, beritajateng.tv – Laku bijak dalam menjaga dan merawat keberlanjutan lingkungan ditunjukkan para siswa dan guru SMAN 1 Tengaran, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

Hari ini, seluruh siswa, para pengajar dan tenaga non kependidikan di SMAN 1 Tengaran berangkat berkegiatan di lingkungan sekolah tanpa kendaraan bermotor.

Tidak ada lalu lalang kendaraan bermotor memasuki gerbang utama sekolah. Mereka kompak memasuki lingkungan sekolah dengan berjalan kaki dan bersepeda.

Sehingga, tidak ada deru serta asap pembakaran yang keluar dari mesin kendaraan bermotor, di lingkungan sekolah tersebut.

“Hari ini, kami sepakat memberlakukan ‘Sehari Bebas Asap Kendaraan’ di sekolah,” kata Kepala SMAN 1 Tengaran, Tri Ajar Suprapto Al Kusworo, Selasa 3 Februari 2026.

Menurutnya, aksi yang para siswa dan guru SMAN 1 Tengaran lakukan ini menjadi edukasi bagi seluruh komponen sekolah untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.

BACA JUGA: Dari Peternakan Imajiner hingga Coding, Terobosan Keren Guru SDN Pendrikan Lor 01 Bikin Siswa Ketagihan Belajar

Tujuannya adalah untuk mengurangi emisi serta menekan polusi udara yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Yakni di lingkungan belajar siswa dan guru tersebut.

Ia ingin, aksi semacam ini bukan hanya sesaat atau hari ini saja. Namun ke depan juga bisa menjadi budaya bijak oleh semua siswa dan guru di lingkungan SMAN 1 Tengaran.

“Harapan kami, dari pelaksanaan hari ini, nantinya akan bisa terus dilakukan berkelanjutan di lingkungan SMAN 1 Tengaran ini,” ungkapnya.

Ajar menambahkan, saat ini SMAN 1 Tengaran menganpu 1.245 siswa dengan jumlah guru mencapai 90 orang. Untuk beraktivitas di sekolah 60 persen di antaranya mengendarai kendaraan bermotor.

Bahkan tempat parkir sekolah juga sidah overload dan tidak bisa menampung jumlah kendaraan bermotor tersebut. Sehingga sebagian siswa harus parkir di rumah warga.

Dengan adanya aksi ini, siswa yang rumahnya dekat sekolah bisa berjalan kaki atau bersepeda Sementara yang rumahnya jauh bisa diantar atau naik kendaraan umum.