Dalam kesempatan itu, ia menepis anggapan bahwa museum selalu identik dengan sepi pengunjung. Hanung menilai, Museum Ronggowarsito justru tergolong ramai, terutama saat pelaksanaan kegiatan berskala nasional.
“Kalau di Ronggowarsito, banyak pengunjung. Ramai. Yang paling banyak itu pelajar. Apalagi setiap tahun ada Rakornas atau pameran museum,” ungkapnya.
Selain pelajar, Disbudparekraf juga mendorong keterlibatan kelompok difabel dalam aktivitas museum, termasuk menyediakan ruang khusus untuk menampilkan karya mereka.
“Kami juga menggaet teman-teman difabel yang pelajar. Kami kasih satu tempat untuk ekspos hasil karyanya. Paling tidak mereka merasa, ‘Wah, saya itu ada,’” kata Hanung.
Dorong Event Budaya di Jateng, dari Pokdarwis hingga Karisma Event Nusantara
Tak hanya museum, Hanung menyebut penguatan ekosistem kebudayaan dan pariwisata juga dilakukan melalui pengembangan event-event daerah yang tumbuh dari komunitas.
Menurutnya, sejumlah event besar di Jawa Tengah berawal dari inisiatif kelompok sadar wisata (Pokdarwis) berskala kecil.
“Seperti Karisma Event Nusantara yang sudah ada, misalnya Grebeg Sudiro, event Cheng Ho di kawasan Klenteng Sam Poo Kong, dan Dugderan. Itu dulu dari kelompok sadar wisata kecil-kecil, akhirnya menjadi besar,” ujarnya.
Ia mendorong Pokdarwis di berbagai daerah untuk terus menggali potensi lokal dan mengembangkannya secara berkelanjutan. Hanung mengungkap, Disbudparekraf Jawa Tengah telah mendata lebih dari 400 event, baik berskala besar maupun kecil, yang tersebar di kabupaten/kota.
“Dari Pokdarwis tadi kami dorong, ayo kamu punya apa? Kami dorong berlanjutan. Kemarin kami mendata, baik yang besar maupun kecil itu ada 400 lebih,” ungkapnya.
BACA JUGA: Berstatus Cagar Budaya-Arsitektur Kolonial, Rumah Dinas Wali Kota Salatiga Bakal Jadi Museum
Ke depan, kalender event Jawa Tengah akan diperbarui agar potensi setiap daerah dapat terpetakan dan dipromosikan lebih luas.
“Nanti kalender event akan kami perbarui lagi. Kabupaten/kota punya apa yang bisa disuguhkan,” kata Hanung.





