Gaya Hidup

Tren Open Trip ke Gunung Makin Meningkat, Tak Kompak Karena Tak Saling Kenal

×

Tren Open Trip ke Gunung Makin Meningkat, Tak Kompak Karena Tak Saling Kenal

Sebarkan artikel ini
open trip gunung
Ilustrasi open trip ke gunung. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa tahun terakhir, gaya liburan ala open trip terbilang populer di kalangan para traveller. Secara umum, open trip adalah sekelompok orang yang tidak mengenal satu sama lain pergi berlibur bersama.

Namun akhir-akhir ini, tren perjalanan open trip juga merambah di aktivitas pendakian gunung. Padahal, seperti yang kita tahu, gunung bukanlah tempat wisata untuk berlibur.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jateng Muhammad Chomsul mengatakan, fenomena open trip dalam pendakian gunung bukanlah hal yang baik. Apalagi ketika para peserta tidak saling mengenal satu sama lain.

“Kami menyoroti fenomena open trip, di mana penyelenggara menghimpun orang-orang dari berbagai wilayah yang sama-sama suka naik gunung tapi sebenarnya tidak saling kenal,” kata Chomsul saat beritajateng.tv hubungi, Jumat, 18 Oktober 2024.

BACA JUGA: Berikut Kronologi Hilangnya Naomi Daviola di Gunung Slamet, Banyak Pelajaran yang Bisa Kita Dapat

Menurut Chomsul, kekompakan dalam rombongan pendakian adalah hal terpenting. Sedangkan kekompakan pada rombongan open trip umumnya tidak terbangun.

Sehingga, ia tak begitu menyarankan pendakian gunung melalui open trip. Jangan sampai ada kejadian saling meninggalkan atau tertinggal rombongan karena ego masing-masing anggota.

“Ego saat di lapangan itu menjadi tinggi, ada yang pengen sampai duluan padahal timnya masih di belakang, terus meninggalkan rombongan. Jadi memang perlu pengelola yang lebih care pada anggotanya,” sambungnya.

Posisi penting dalam open trip gunung: leader, navigator, hingga sweeper

Lebih lanjut, Chomsul menjelaskan, rombongan semestinya berbagi tugas selama pendakian gunung. Ada tiga posisi penting yang wajib ada, yaitu leader, navigator dan sweeper.

Leader merupakan orang yang bertanggung jawab dan pengambil keputusan. Navigator bertugas sebagai penunjuk arah. Dan sweeper bertugas untuk memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal.

Tiga posisi itu, kata Chomsul, sering terlewatkan pada pendakian jenis open trip. Apalagi dengan jumlah anggota yang mencapai puluhan orang.

“Jangan hanya mengejar target tapi tanggung jawab terabaikan, ini pertaruhannya nyawa. Gunung itu bukan medan yang ramah apalagi terlalu banyak orang,” tegasnya.

BACA JUGA: Berkaca dari Kasus Naomi Daviola, SMKN 3 Semarang Bakal Bentuk Ekstrakulikuler Pecinta Alam

Chomsul pun mengingatkan pada kasus hilangnya Naomi Daviola. Saat itu, rombongan open trip Naomi terdiri dari 40 orang lebih.

Dengan kekuatan fisik yang berbeda dan jarak tempuh mencapai 8 jam, memang rawan terjadi anggota yang tertinggal dan tersesat. Oleh karenanya, Chomsul menyarankan agar pecinta alam lebih selektif dalam melakukan pendakian.

“Idealnya jangan terlalu banyak, 7 sampai 10 orang itu sudah cukup banyak untuk bisa melaksanakan open trip. Kalau kebanyakan kaya ‘angon bebek’,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp