PIC kegiatan, Fitrika Purnama Dewi menjelaskan, onde-onde bukan sekadar jajanan manis, tetapi memiliki makna filosofis mendalam.
“Bulat itu lambang kesatuan. Digoreng warnanya kuning itu lambang kemakmuran. Kalau wijen itu lambang rezekinya akan banyak dan terus menerus,” jelasnya.
Bahan dasar beras ketan juga memiliki makna simbolik sebagai perekat kebersamaan. Dalam konteks perayaan ini, onde-onde menjadi lambang persatuan lintas budaya dan agama yang terajut dalam satu momentum Cap Go Meh dan Ramadan.
BACA JUGA: Rayakan Cap Go Meh dengan Penuh Kasih Sayang Bersama Difabel
Yang tak kalah menarik, pembagian takjil berlangsung dengan sentuhan unik. Panitia membagikan takjil dengan memasang wayang potehi di jari-jari tangan mereka.
“Nanti yang menarik adalah kami bagi takjil pakai wayang potehi. Lucu sih, nanti bagus,” ujar Agung.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan kali ini bertepatan dengan Ramadan sehingga terdapat kegiatan berbagi takjil. Momentum ini menjadi bukti bahwa tradisi dan iman dapat berjalan berdampingan. Cap Go Meh dan Ramadan yang bertemu dalam satu hari di Semarang menghadirkan wujud toleransi yang nyata. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





