Gaya Hidup

Wayang Potehi Bagi Takjil di Semarang, Lontong Cap Go Meh hingga Onde-Onde Jadi Simbol Toleransi

×

Wayang Potehi Bagi Takjil di Semarang, Lontong Cap Go Meh hingga Onde-Onde Jadi Simbol Toleransi

Sebarkan artikel ini
Wayang Potehi
Panitia bersama para perwakilan dari berbagai organisasi lintas iman saat membagikan takjil ke masyarakat di sekitar Gedung Rasa Dharma Semarang, Selasa, 3 Maret 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

PIC kegiatan, Fitrika Purnama Dewi menjelaskan, onde-onde bukan sekadar jajanan manis, tetapi memiliki makna filosofis mendalam.

“Bulat itu lambang kesatuan. Digoreng warnanya kuning itu lambang kemakmuran. Kalau wijen itu lambang rezekinya akan banyak dan terus menerus,” jelasnya.

Bahan dasar beras ketan juga memiliki makna simbolik sebagai perekat kebersamaan. Dalam konteks perayaan ini, onde-onde menjadi lambang persatuan lintas budaya dan agama yang terajut dalam satu momentum Cap Go Meh dan Ramadan.

BACA JUGA: Rayakan Cap Go Meh dengan Penuh Kasih Sayang Bersama Difabel

Yang tak kalah menarik, pembagian takjil berlangsung dengan sentuhan unik. Panitia membagikan takjil dengan memasang wayang potehi di jari-jari tangan mereka.

“Nanti yang menarik adalah kami bagi takjil pakai wayang potehi. Lucu sih, nanti bagus,” ujar Agung.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan kali ini bertepatan dengan Ramadan sehingga terdapat kegiatan berbagi takjil. Momentum ini menjadi bukti bahwa tradisi dan iman dapat berjalan berdampingan. Cap Go Meh dan Ramadan yang bertemu dalam satu hari di Semarang menghadirkan wujud toleransi yang nyata. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp