SEMARANG, beritajateng.tv – Suasana Cap Go Meh di Perkumpulan Rasa Dharma Semarang tahun ini terasa berbeda. Di tengah perayaan 150 tahun Boen Hian Tong, ada wayang potehi yang beraksi membagikan 300 paket takjil kepada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Momen ini menjadi potret indah toleransi lintas iman di Kota Semarang.
Ketua Panitia Perayaan 150 Tahun Perkumpulan Rasa Dharma Semarang, Agung Kurniawan, mengatakan kegiatan pada Selasa, 3 Maret 2026 sore itu merupakan kolaborasi antara Rasa Dharma, Perkumpulan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang.
“Kegiatan sore ini Rasa Dharma kerja sama dengan Perkumpulan Tionghoa Islam Semarang dan Persaudaraan Lintas Agama. Kami mau bagi takjil, buka puasa bersama, tapi menunya lontong Cap Go Meh karena kebetulan hari ini bertepatan dengan hari Cap Go Meh,” ujar Agung di sela-sela acara.
Lontong Cap Go Meh Simbol Akulturasi Indonesia
Sebanyak 300 paket takjil dan 150 porsi lontong opor disiapkan dalam kegiatan tersebut. Menu utamanya adalah lontong Cap Go Meh, makanan khas akulturasi yang hanya ditemukan di Indonesia.
“Lontong Cap Go Meh isinya lontong ayam, lontong opor pada umumnya, tapi ada bubuk kedelai,” jelas Agung.
Ia menegaskan, di Tiongkok tidak ada tradisi menyantap lontong Cap Go Meh saat perayaan hari ke-15 Imlek. Hidangan tersebut lahir dari proses percampuran budaya Tionghoa dan Nusantara.
BACA JUGA: Perayaan 150 Tahun Perkumpulan Boen Hian Tong di Semarang, Padukan Cap Go Meh dan Haul Gus Dur
“Di Tiongkok itu kalau Cap Go Meh enggak makan lontong Cap Go Meh. Cuma di Indonesia yang kalau Cap Go Meh makannya lontong opor,” katanya.
Tak hanya lontong, takjil yang mereka bagikan juga berupa kurma dan onde-onde. Kurma identik dengan Ramadan, sementara onde-onde merupakan kudapan yang berasal dari Tiongkok.
“Takjil yang kami bagikan itu kurma dan onde-onde. Wujud akulturasi budaya aja,” tambahnya.
Filosofi Onde-Onde, Persatuan dan Kemakmuran
PIC kegiatan, Fitrika Purnama Dewi menjelaskan, onde-onde bukan sekadar jajanan manis, tetapi memiliki makna filosofis mendalam.
“Bulat itu lambang kesatuan. Digoreng warnanya kuning itu lambang kemakmuran. Kalau wijen itu lambang rezekinya akan banyak dan terus menerus,” jelasnya.
Bahan dasar beras ketan juga memiliki makna simbolik sebagai perekat kebersamaan. Dalam konteks perayaan ini, onde-onde menjadi lambang persatuan lintas budaya dan agama yang terajut dalam satu momentum Cap Go Meh dan Ramadan.
BACA JUGA: Rayakan Cap Go Meh dengan Penuh Kasih Sayang Bersama Difabel
Yang tak kalah menarik, pembagian takjil berlangsung dengan sentuhan unik. Panitia membagikan takjil dengan memasang wayang potehi di jari-jari tangan mereka.
“Nanti yang menarik adalah kami bagi takjil pakai wayang potehi. Lucu sih, nanti bagus,” ujar Agung.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan kali ini bertepatan dengan Ramadan sehingga terdapat kegiatan berbagi takjil. Momentum ini menjadi bukti bahwa tradisi dan iman dapat berjalan berdampingan. Cap Go Meh dan Ramadan yang bertemu dalam satu hari di Semarang menghadirkan wujud toleransi yang nyata. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





