SEMARANG, beritajateng.tv – Rencana eksplorasi energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Telomoyo terus memicu keresahan warga setempat.
Anggota Karang Taruna Telomoyo, Dwi Purwoko, mengatakan, penolakan proyek geothermal ini berdasar rekam jejak bencana longsor yang masih menyisakan trauma mendalam.
Dwi mengatakan, kekhawatiran masyarakat Telomoyo serupa dengan warga di sekitar Gunung Ungaran. Apalagi, desanya saat ini merupakan lokasi relokasi pascabencana longsor besar di Desa Ngrawan pada masa lampau.
“Kami merasa belum ada kejelasan. Bagi kami yang berada di daerah eksplorasi, sama halnya dengan Ungaran. Kami punya keresahan yang sama. Kebetulan desa kami adalah tempat relokasi longsor. Dulu itu longsor di Desa Ngrawan, faktornya juga gempa bumi,” tutur Dwi, saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, belum lama ini.
BACA JUGA: Pakar Lingkungan SCU: Energi Matahari Minim Dampak Ketimbang Geothermal, Tapi Izin Panel Surya Sulit
Dia khawatir aktivitas pengeboran panas bumi di lereng gunung Telomoyo akan memicu kembali bencana ekologis serupa.
“Ketika tadi berbicara soal akibat yang bisa terjadi karena geothermal, salah satunya longsor. Apakah kami harus mengalami hal yang sama lagi?” kata Dwi.
Selain ancaman longsor, kata Dwi, kelestarian sumber air bakal ikut terancam. Dwi bilang, di lereng Telomoyo sisi timur hingga sebagian Kabupaten Magelang merupakan lumbung air yang sangat vital bagi sektor pertanian.
“Wilayah Telomoyo di sisi timur, seperti Sepakung, lalu daerah Kabupaten Magelang di selatan dan barat, itu sumber airnya sangat melimpah. Ketika kita main ke Sepakung, masih sangat banyak petani yang menanam padi,” katanya.
Rencana Geothermal Telomoyo Sudah sejak 2018
Dwi mengatakan, wacana proyek geothermal di Gunung Telomoyo bukanlah hal baru. Hal itu dia ketahui usai menemui salah satu kepala desa di Kecamatan Banyubiru untuk menelusuri kepastian lokasi eksplorasi.
Dari pertemuan itu terungkap, wacana proyek sudah ada pembahasannya sejak tahun 2018. Di mana awalnya menyasar wilayah di Kecamatan Banyubiru.





