Jateng

Anggap Menakutkan, Disporapar Jateng Pernah Usul Ganti Nama Siksorogo Lawu Ultra Jadi “Sehatrogo”

×

Anggap Menakutkan, Disporapar Jateng Pernah Usul Ganti Nama Siksorogo Lawu Ultra Jadi “Sehatrogo”

Sebarkan artikel ini
Siksorogo Lawu Ultra
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah (Disporapar) Jawa Tengah, Masrofi, saat dijumpai di kantornya, Selasa, 9 Desember 2025 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Usai “Siksorogo Lawu Ultra” (SLU) memakan korban jiwa, tak sedikit warganet yang mengusulkan penggantian nama event tersebut lantaran dianggap menyeramkan.

Diketahui, Siksorogo Lawu Ultra merupakan event sport tourism tahunan yang digelar di kawasan Gunung Lawu, Jawa Tengah. Ajang ini pertama kali diselenggarakan pada 2019 dan kembali digelar rutin setiap tahun, kecuali saat pandemi Covid-19 pada 2020–2021.

Bagi komunitas pelari, Siksorogo Lawu Ultra dikenal sebagai race impian para pecinta trail running, lantaran menawarkan medan menantang di lereng Gunung Lawu serta atmosfer kompetitif yang intens.

Bahkan, ada 5,7 ribu peserta yang ikut dalam Siksorogo Lawu Ultra 2025, dari dalam dan luar negeri. Mereka terbagi dalam tujuh kategori lomba: 7 kilometer, 15 kilometer, 30 kilometer, 50 kilometer, 80 kilometer, dan 120 kilometer.

BACA JUGA: Dua Pelari Siksorogo Meninggal Punya Riwayat Jantung-Asma: Tak Bilang di Tes Kesehatan

Menanggapi masukan warganet untuk mengubah tajuk “Siksorogo” tersebut, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Masrofi, angkat bicara.

Masrofi menuturkan, nama “Siksorogo” sudah lama terpakai jauh sebelum ia menjabat sebagai kepala dinas.

“Nama [Siksorogo] ini kan sebelum saya menjabat ya, sudah lima atau enam kali event. Tapi nama Siksorogo itu membuat orang penasaran, istilahnya menantanglah,” ujar Masrofi saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, Selasa, 9 Desember 2025 sore.

Menurutnya, “Siksorogo” membuat pelari semakin penasaran bagaimana menantangnya trek Gunung Lawu. Hal itu pula yang menyebabkan jumlah pelari Siksorogo mencapai 5,7 ribu tahun ini.

Usulan ganti nama Siksorogo Lawu Ultra

Kendati begitu, Masrofi menyebut ia pernah usul untuk mengganti nama “Siksorogo” menjadi “Sehatrogo”.

“Saya sudah pernah menyatakan, ‘Nek ojo Siksorogo piye? Nek judule Sehatrogo piye?’ untuk yang akan datang bagaimana?” tuturnya.

Namun, usulan Masrofi itu mendapat penolakan. Alasannya, “Siksorogo” menjadi tantangan tersendiri bagi pelari.

“Lalu ada yang bilang, ‘Itu [Siksorogo] ikon, Pak, bagi pelari itu tantangan.’ Jadi daya tarik sendiri bagi pelari untuk dapat mengikuti kegiatan itu karena namanya, kan begitu,” sambung dia.

Kendati begitu, pihaknya mengaku masih akan mempertimbangkan untuk penggantian nama event pada tahun 2026.

BACA JUGA: Tahun 2026 Jateng Banjir Event Running, Ini Daftar Lomba Lari di Semarang, Solo, hingga Wonosobo

“Akan kami pertimbangkan, tapi kami belum ada rencana perubahan nama. Kami pikirkan lebih lanjut untung-rugi, manfaat, termasuk promosi untuk menarik pelari,” jelas dia.

Atas kejadian meninggalnya dua orang pelari dalam ajang Siksorogo Lawu Ultra 2025 yang dugaannya akibat riwayat penyakit, Masrofi meminta kepada pelari untuk mampu mengukur kesanggupan maupun kesehatan diri sendiri.

“Maka kami wanti-wanti dalam setiap event lari, ukur kemampuan diri pribadi. Apabila tidak mampu ya sudah tidak usah ikut, kan gitu? Karena ini treknya juga panjang, tidak hanya 10 km, 15 km, 20 km, ada yang 120 km,” tuturnya.

Begitu juga halnya dengan event sport tourism terkemuka lain di Jawa Tengah seperti Borobudur Marathon atau Bormar.

“Termasuk kami juga melaksanakan Borobudur Marathon ya, kami wanti-wanti juga semuanya. Terus terang kalau punya penyakit, kalau kepengin ikut ya jangan maksimallah, kan ada ketentuannya. ‘Oh, ini perlu dampingi, nih’, kan gitu,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp