SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang mulai menyiapkan fondasi penguatan sektor pariwisata dan ekonomi menuju 2027. Salah satu langkahnya ialah mempercepat program quick win melalui penguatan Industri Kecil Menengah (IKM) dan UMKM agar siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Strategi tersebut menjadi bagian dari target pembangunan Kota Semarang pada 2027 yang mengusung tema Pertumbuhan Ekonomi dan Perkembangan Pariwisata.
Pemkot menilai kesiapan pelaku usaha lokal harus mulai sejak sekarang agar mampu memanfaatkan peluang dari meningkatnya aktivitas pariwisata.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengapresiasi kinerja tim Program Waras Ekonomi yang mampu menghadirkan langkah cepat untuk membangkitkan optimisme pelaku usaha lokal.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga memberi harapan baru bagi UMKM yang tengah berjuang mengembangkan usahanya.
“Saya mengapresiasi teman-teman Waras Ekonomi. Mereka kompak dan bergerak cepat menghadirkan quick win. Program ini memberi semangat dan mimpi baru bagi para UMKM agar terus berkembang,” ujar Agustina seusai membuka Temu Bisnis IKM Olahan Pangan Program Waras Ekonomi 2026 di Hotel Gumaya Semarang.
Agustina menjelaskan, hingga akhir 2026 Pemkot akan mempercepat berbagai program pendampingan sebagai persiapan menuju agenda temu bisnis berskala besar pada 2027.
Melalui forum tersebut, pelaku usaha diharapkan dapat bertemu langsung dengan calon pembeli, investor, maupun mitra bisnis.
Sebelum memasuki proses business matching, para pelaku usaha akan mendapatkan pembinaan secara menyeluruh. Programnya meliputi coaching clinic, pelatihan manajemen usaha, peningkatan kualitas produk, pelatihan presentasi bisnis atau pitching, hingga penguatan kualitas sumber daya manusia.
BACA JUGA: Smart Indigo Jadi Senjata Baru Disperin Semarang, 21 IKM Langsung Kantongi Kerja Sama Bisnis
“Di akhir tahun nanti kita dorong terus persiapannya. Tahun 2027 akan ada lebih banyak temu bisnis. Sebelum itu, pelaku usaha akan mengikuti coaching clinic, pelatihan pitching, dan berbagai penguatan kapasitas agar benar-benar siap. Kita ingin Semarang menjadi kota pariwisata yang di dukung produk UMKM berkualitas,” katanya.
Menurut Agustina, setiap pelaku UMKM memiliki karakter usaha yang berbeda sehingga pola pendampingan tidak bisa disamaratakan.
Produk kuliner segar, misalnya, lebih tepat di perkuat untuk pasar domestik melalui perluasan gerai. Sementara UMKM yang berorientasi ekspor akan mendapatkan jalur pendampingan khusus.
“Ada UMKM yang fokus di pasar lokal, ada juga yang ingin menembus pasar internasional. Kami menyiapkan pendampingan sesuai kebutuhan, termasuk bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan jaringan internasional,” jelasnya.
Selain membuka akses pasar, Pemkot Semarang juga berupaya membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang kerap pelaku usaha hadapi.
Pendampingan mulai dari pengurusan legalitas usaha, sertifikasi halal, PIRT, pelatihan peningkatan kapasitas, hingga penyediaan foto produk profesional untuk mendukung pemasaran digital.
Saat ini Pemkot juga melakukan pembaruan dan verifikasi data pelaku usaha agar seluruh program tepat sasaran.
Pelaku UMKM yang benar-benar aktif dan memiliki komitmen mengembangkan usahanya akan menjadi prioritas dalam berbagai program pendampingan.
“Layanan pendampingan bisa di akses melalui Dinas Perindustrian maupun aplikasi Waras Ekonomi. Kami ingin memastikan pelaku usaha mendapatkan fasilitas yang mereka butuhkan untuk berkembang,” ungkap Agustina.
Berdasarkan data sementara, sekitar 33 ribu pelaku usaha telah terdaftar di Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang. Jumlah tersebut masih terus di perbarui melalui proses verifikasi lapangan sebagai dasar penyusunan program pengembangan ekonomi daerah. (*)





