SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Perindustrian Kota Semarang mempercepat pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui peluncuran sistem digital Smart Indigo (Smart, Integrated, Green, and Opportunity).
Inovasi ini menjadi strategi baru untuk memperkuat daya saing produk lokal sekaligus mendukung program prioritas Pemerintah Kota Semarang, Waras Ekonomi.
Peluncuran Smart Indigodilakuka bersamaan dengan kegiatan Temu Bisnis IKM Olahan Pangan di Hotel Gumaya Semarang. Program tersebut langsung mempertemukan pelaku IKM dengan industri besar agar produk lokal memiliki akses pasar yang lebih luas.
Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang, Arwita Mawarti, mengatakan Smart Indigo hadir sebagai sistem manajemen industri yang mengintegrasikan digitalisasi, keberlanjutan lingkungan, dan perluasan peluang usaha dalam satu platform.
“Aksi perubahan yang saya sebut Smart Indigo ini memungkinkan kita melakukan percepatan. Sistem ini menghubungkan sentra industri berbasis digital, berorientasi hijau (green), dan membuka peluang (opportunity) pasar seluas-luasnya untuk IKM,” kata Arwita.
Ia menjelaskan, Smart Indigo bukan sekadar konsep digital. Pada implementasi perdana, sistem tersebut langsung menghasilkan kerja sama nyata antara pelaku industri besar dengan IKM Kota Semarang melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
Hasil awal program ini mencatat sedikitnya 10 perusahaan dan pelaku industri besar siap menjadi mitra bisnis. Sebanyak 21 IKM berhasil menjalin kerja sama, sementara lebih dari 40 produk lokal resmi masuk dalam rantai pasok mitra industri.
“Temu bisnis hari ini adalah salah satu wujud nyata percepatan dari aksi perubahan Smart Indigo untuk menunjang dan mendukung program Waras Ekonomi,” ujarnya.
Menurut Arwita, Kota Semarang memiliki potensi industri yang besar. Dari lebih dari 30 ribu pelaku UMKM, sekitar 1.600 di antaranya merupakan Industri Kecil dan Menengah yang tersebar di 24 sentra industri tematik.
BACA JUGA: Strategi Dinas Perindustrian Kota Semarang Percepat UKM Masuk SIINAS
Sentra tersebut meliputi industri kuliner khas, seperti bandeng, lumpia, dan jajanan tradisional, industri kerajinan batik dan craft, hingga sentra logam.





