Adapun survei yang ia lakukan bersama timnya membawanya kepada jawaban bahwa masyarakat tak begitu tertarik dengan Pileg. Mereka lebih tertarik dengan Pilpres. Terlebih ada ratusan orang yang menjadi pesaingnya untuk berebut kursi di Senayan sehingga tak bisa semata-mata hanya bermodal baliho bergaya biasa.
“Dari survei itu, masyarakat tidak ada yang peduli terhadap pencalonan legislatif, mereka hanya peduli dengan Capres, bahkan mereka tidak kenal dengan calegnya. Dari situ saya menciptakan cara bagaimana agar kampanye itu menjadi asyik dan dicintai,” kata pria yang juga pengusaha ini.
BACA JUGA: PDIP Jateng Instruksikan Ribuan Caleg dan Tim Siber Mulai Bergerak Menangkan Pemilu
Ia berharap orang yang melihat sosok Ultraman langsung mengingat nama Jamaludin Malik. Dari sekian banyak pahlawan super, sosok Ultraman bagi Jamaludin sangat melekat pada benak orang kelahiran tahun 80 hingga 90-an.
“Saya ingin ketika mereka melihat Ultraman agar langsung ingat dengan Jamaludin Malik. Lagi pula episode Ultraman kan sudah berakhir lama, yang dulunya suka nonton Ultraman itu sekarang sudah umur 40-an keatas lah. Saya ingin mereka mengenang kembali sosok Ultraman itu dengan nama Jamaludin Malik,” paparnya.
Ia mengaku, masyarakat memberi respons positif atas gebrakannya yang berani tampil beda. Penggambaran Ultraman yang ia sebut ‘gemoy’ itu juga menjadi hasil risetnya. Yang mana ‘gemoy’ akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang menarik minat dan mudah populer pada media sosial.
“Sudah ada 120 juta orang yang menggunakan kata gemoy di media sosial. Kemanapun saya datang, orang selalu bilang Jamaludin Malik Si Ultraman, artinya nama saya sudah diingat, itu tujuannya,” bebernya.
Sebelumnya tak tertarik politik
Sosok yang mengincar kursi Komisi III DPR RI ini mengaku Pemilu 2024 menjadi yang pertama baginya. Bahkan, sebelumnya ia benar-benar tak tertarik masuk partai politik. Hatinya tergerak saat ia merasa dipersulit oleh pelayanan publik. Yakni saat ingin mendapatkan fasilitas kamar pada sebuah rumah sakit.





