Saat beritajateng.tv mewawancarainya, Budi Utomo tampak ramah dan humble. Ia menceritakan bahwa baliho unik dan nyeleneh yang ia buat, berasal dari candaan rekan-rekannya.
“Ide sebenarnya dari candaan teman-teman. Kemudian candaan itu ditangkap oleh Pak Bos saya. Beliau adalah Pramudiyas Hidayat Setiawan atau biasa dipanggil Wawan,” ujarnya.
Dari situ, lanjutnya, kemudian muncul konsep kata-kata yang sedikit berbeda dari caleg-caleg lainnya.
“Kami tidak mau menjelek-jelekan siapapun. Biar saya saja yang jelek,” tuturnya.
Budi Utomo mengakui jika ia bukan orang berada. Sehingga salah satu cara agar di ‘notice’ yakni dengan membuat poster atau baliho unik.
“Saya kerja ikut orang. Bukan pengusaha, bukan politisi, dan bukan orang kaya. Saya kerja ikut orang di kontraktor Prambanan Group,” terangnya.
Tak ingin poster hanya sepintas lalu
Meski demikian, Budi menyebut tergerak ingin menduduki kursi legislatif karena ingin berkontribusi bagi masyarakat.
“Basic pekerjaan saya itu sosial. Saya sering melakukan kegiatan-kegiatan sosial, misal peminjaman kursi roda atau alat-alat kesehatan bagi yang membutuhkan. Itu free tanpa dipungut biaya sampai sembuh. Atau mohon maaf, juga sampai ada juga peminjam yang meninggal dunia,” katanya.
Bahkan, Budi tak segan untuk membantu mencarikan beasiswa bidik misi maupun beasiswa bagi anak-anak kurang mampu.
“Saya juga membantu program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Membantu mengurus administrasi, memanusiakan manusia. Alhamdulilah sampai sekarang semua dimudahkan, jadi kalau Tuhan berkehendak saya duduk di kursi dewan untuk birokrasi kan mudah. Saya hanya berharap itu saja,” jelasnya.
BACA JUGA: Pasang Story Caleg, Sekdes di Blora Dipanggil Panwascam
Ia bercerita alasannya menggunakan poster dengan kata-kata unik. Menurut Budi, jika poster dengan cara yang biasa, orang hanya melihat sepintas dan sambil lalu. Namun dengan sesuatu yang unik, saat orang lewat setidaknya akan menjadi perhatian.





