SEMARANG, beritajateng.tv – Kemampuan berbicara menjadi salah satu indikator penting dalam tumbuh kembang anak. Namun, tidak semua anak dapat melewati tahapan tersebut sesuai usianya.
Sebagian mengalami keterlambatan bicara atau speech delay yang jika tidak segera tertangani. Akan berpotensi memengaruhi kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, hingga proses belajar ketika memasuki usia sekolah.
Kondisi ini masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI dan berbagai penelitian sepanjang 2024–2025, sekitar 5 hingga 10 persen anak usia prasekolah mengalami keterlambatan bicara.
Bahkan, sejumlah studi menyebut gangguan komunikasi terjadi pada satu dari lima anak dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Di sisi lain, gangguan pemrosesan sensorik atau Sensory Processing Disorder (SPD) juga menjadi perhatian. Karena perkiraannya oleh 5–10 persen anak tanpa kondisi penyerta dan lebih banyak terjadi anak berkebutuhan khusus.
Melihat kebutuhan tersebut, Columbia Asia Hospital Semarang memperkuat layanan tumbuh kembang anak dengan menghadirkan Terapi Wicara dan Sensori Integrasi.
Layanan ini bertujuan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi, motorik, perilaku. Serta fungsi sensorik melalui penanganan yang menyeluruh.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Columbia Asia Hospital Semarang, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A., Subsp.TKPS, mengatakan keberhasilan terapi sangat terpengaruh oleh kecepatan orang tua mengenali tanda-tanda gangguan perkembangan.
“Deteksi dini dan intervensi yang tepat merupakan kunci untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Semakin cepat terapi dimulai, semakin besar peluang anak untuk mengejar ketertinggalan dan mencapai perkembangan yang optimal sesuai usianya,” ujar dr. Farid.
Ia menjelaskan, keterlambatan bicara tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Pada beberapa kasus, anak juga mengalami gangguan pemrosesan sensorik, hambatan motorik. Atau kesulitan dalam berinteraksi sehingga perlu pemeriksaan yang komprehensif sebelum menentukan jenis terapi yang tepat.
Karena itu, Columbia Asia Hospital Semarang menerapkan pendekatan multidisiplin. Penanganan pasien melibatkan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR), terapis wicara, okupasi terapis, fisioterapis, hingga psikolog yang bekerja secara terpadu sesuai kebutuhan setiap anak.
Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Columbia Asia Hospital Semarang, dr. Dewi Kusuma Hartono, Sp.KFR, menuturkan setiap anak memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda sehingga program terapi tidak dapat di samaratakan.
BACA JUGA: Jadi RSKB Tipe A, RS Columbia Asia Semarang Miliki Gedung Baru dengan Layanan Bedah Lengkap
“Setiap pasien memiliki profil sensorik dan kemampuan komunikasi yang berbeda. Oleh karena itu, terapi kami berikan secara individual dengan rencana penanganan yang kami sesuaikan secara khusus agar hasilnya lebih efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Selain dukungan tenaga medis berpengalaman, ruang terapi juga di desain ramah anak.
Suasana terasa nyaman dan menyenangkan sehingga anak dapat mengikuti proses terapi melalui aktivitas bermain yang tetap memiliki target perkembangan yang terukur.
Direktur Columbia Asia Hospital Semarang, dr. Herman Kristanto, MS, Sp.OG., Subsp.KFm., CHQP., MQM., mengatakan kehadiran layanan ini merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam memberikan layanan kesehatan. Yang semakin lengkap bagi masyarakat, khususnya di bidang tumbuh kembang anak.
“Kami berkomitmen menghadirkan layanan kesehatan yang komprehensif bagi masyarakat Semarang dan sekitarnya. Kehadiran Terapi Wicara dan Sensori Integrasi yang terintegrasi ini menjadi upaya kami mendampingi orang tua. Agar setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal melalui layanan rehabilitasi yang profesional,” ungkap dr. Herman.
Melalui layanan tersebut, Columbia Asia Hospital Semarang berharap semakin banyak anak mendapatkan penanganan sejak dini sehingga hambatan tumbuh kembang dapat diatasi lebih cepat.
Para orang tua pun di imbau tidak menunda konsultasi apabila menemukan tanda-tanda keterlambatan bicara atau gangguan perkembangan lainnya. Karena penanganan pada masa emas anak akan memberikan peluang yang jauh lebih baik bagi masa depan mereka. (*)





