Ia menambahkan, ada sekitar 10 tenant, yang belum ada di Semarang yang secara eksklusif hadir di Queen City Mall.
“Yang membuat mereka akhirnya yakin untuk buka di Semarang adalah, they believe in the brand, karena Sri Ratu tidak pernah ada bad impression,. Image Sri Ratu selalu terjaga, jadi mereka yakin dan percaya sama kita,” jelasnya.
Vonny mengungkapkan dalam sehari jumlah pengunjung Queen City Mall bisa mencapai 15 ribu orang. Sementara saat weekend atau event tertentu bahkan bisa mencapai 20 ribu sampai 25 ribu orang.
Vonny pun berharap, dengan persaingan pusat perbelanjaan yang semakin ketat, para investor kian tertarik untuk berinvestasi di Kota Semarang. Hal tersebut karena Kota Semarang masih bisa jauh lebih berkembang daripada saat ini.
“Kalau misal banyak yang invest pasti mereka (brand ternama) pada masuk semua. Kita nggak boleh kalah dengan Surabaya dan Jakarta,” pungkasnya.
Mal legend Ciputra pertahankan eksistensi
Menjamurnya mal di Kota Semarang ini menimbulkan tantangan baru pada pengelola mal yang lebih dulu ada. Mal Ciputra Semarang terkenal sebagai salah mal tertua di Kota Semarang. Resmi buka pada Desember 1993 silam, Mal Ciputra Semarang berhasil bertahan dan terus berkembang di tengah maraknya pembangunan mal baru.
Promotion Manager Mal Ciputra Semarang, Catur Agus Joko Widodo, mengungkapkan, persaingan mal di Kota Semarang memang kian terasa. Hal tersebut tak lepas dari Pemkot Semarang yang memandang investasi semakin seksi, terutama dalam sektor properti.
BACA JUGA: Viral Pengunjung Terkunci Tengah Malam di Parkiran, Ini Klarifikasi Mal Ciputra Semarang
Catur mengatakan, saat ini sektor properti yang menarik bukan lagi office building, melainkan shopping center atau pusat perbelanjaan. Salah satu alasannya antara lain karena investasi pada pusat perbelanjaan akan berdampak positif ke banyak sektor.





