Tak Hanya SMAN 2 Kudus, Budi Ungkap Ada SD yang Terima MBG dari SPPG Purwosari I
Budi menambahkan, dugaan sementara penyebab keracunan mengarah pada perbedaan waktu konsumsi MBG yang tersaji kepada siswa SMA.
Ia menyoroti perbedaan waktu konsumsi antara siswa SMA dan SD yang menerima MBG dari SPPG yang sama, yakni SPPG Purwosari 1 Kudus. Budi menuturkan, kondisi lauk ayam suwir dan kuah pada hari itu sudah lengket dan tak layak konsumsi.
“Yang jadi pertanyaan kenapa yang kena [keracunan] hanya SMA, SD juga dapat MBG dari SPPG yang sama. Tapi SD makannya pagi, sedangkan SMA siang. Saat dimakan, kuah dan ayam suwirnya sudah kelihatan lengket,” ujarnya.
Hingga kini, hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM masih berjalan. Tim dari SPPG pusat atau Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah turun untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
“Masih dalam pemeriksaan. Dari SPPG pusat (BGN) juga hadir untuk memastikan penyebabnya. Besok rencananya ada rapat,” kata Budi.
Aktivitas Belajar di SMAN 2 Kudus Kembali Normal, Distribusi MBG Masih Evaluasi
Pascakejadian, Budi memastikan seluruh siswa dan guru SMAN 2 Kudus telah kembali beraktivitas normal dan tidak ditemukan gejala lanjutan.
“Alhamdulillah sekarang semua guru dan siswa sudah masuk seperti biasa. Tidak ada terdampak lagi,” ujarnya.
BACA JUGA: Imbas Kasus Dugaan Keracunan Siswa SMAN 2 Kudus, BGN Hentikan Sementara SPPG Purwosari 1
Terkait distribusi MBG, ia menyebut setelah keracunan massal terjadi, pengiriman MBG masih berjalan pada Kamis, 26 Januari 2026. Namun, siswa belum berani mengonsumsi karena trauma.
“MBG waktu itu masih datang. Tapi anak-anak masih trauma jadi belum diambil,” pungkasnya.
Bgn Akan Layangkan Kartu Kuning ke SPPG Purwosari I
Keracunan MBG di Kudus turut mendapat perhatian BGN. Kepala BGN Dadan Hindayana buka suara soal ratusan siswa yang menjadi korban program MBG tersebut.





