Jateng

Diskominfo Kota Semarang Gagas Sistem Penyiraman Smart Farming, Hanya Butuh Modal Rp 500 Ribu

×

Diskominfo Kota Semarang Gagas Sistem Penyiraman Smart Farming, Hanya Butuh Modal Rp 500 Ribu

Sebarkan artikel ini
Diskominfo Kota Semarang Gagas Sistem Penyiraman Smart Farming, Hanya Butuh Modal Rp 500 Ribu
Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu meninjau sistem penyiraman otomatis smart farming yang digagas Diskominfo Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Semarang menggagas sistem penyiraman berbasis smart farming untuk mendukung kemudahan dalam program urban farming.

Sistem penyiraman otomatis ini hanya membutuhkan modal sekitar Rp 500 ribu.

Kepala Diskominfo Kota Semarang, Soenarto menjelaskan, pengembangan alat ini berlandaskan pemikiran Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.

BACA JUGA: Pemkot Semarang Bakal Tambah 8.000 Kamera CCTV Baru

Walikota menginginkan teknologi bisa memberikan kemudahan dan keefektifan urban farming oleh Pemkot Semarang.

Sebelumnya, walikota telah mendorong program urban farming di setiap wilayah untuk ketahanan pangan di ibu kota Jawa Tengah.

Hadirnya Smart Farming berbasis internet of things (IoT) akan memudahkan penyiraman melalui smartphone.

“Kita coba kembangkan teknologi untuk memberikan kemudahan dalam pertanian perkotaan atau urban farming yang di kembangkan Pemkot Semarang,” jelasnya, Senin, 4 November 2024.

Setelah evaluasi terkait program urban farming, Soenarto mengungkapkan, niat masyarakat memulai urban farming sangat luar bagus, termasuk dari modal bibit dan lainnya.

Hanya saja, perawatan dan penyiraman yang sulit karena harus melakukannya secara rutin agar bisa tumbuh dengan baik.

“Penyiraman ini kadang mereka anggap sulit, dan menjadi kendala dalam urban farming,” bebernya.

Karena alasan itu, akhirnya Diskominfo membuat Smart Farming berbasis IoT. Yakni menggunakan pompa air pada sistem aplikasi dan mekanik yang bisa dikendalikan melalui smartphone. Tujuannya agar penyiraman tanaman bisa lebih mudah.

Penyiraman Otomatis

“Penyiraman ini meskipun otomatis, masih melibatkan campur tangan manusia untuk menentukan kapan penyiraman dilakukan,” tambah dia.

Smart Farming, kata dia, saat ini masih terus dikembangkan untuk skala ataupun fungsi yang lebih luas, misalnya memantau suhu di Green House untuk penanganan anggrek, dan tanaman lainnya.

“Jadi bisa tahu suhunya berapa, misal terlalu panas bisa dikaji penyiraman,” katanya.

Inovasi ini, lanjut dia, akan pihaknya uji coba dan di launching di Kebun Bibit milik Dinas Pertanian.

“Kita akan launching dan uji coba saat penanaman bawang merah di kebun milik Dinas Pertanian,” ujarnya.

Diskominfo kata dia, juga mencoba menekan harga dari sisi komponen Smart Farming IoT, agar bisa lebih murah sehingga tidak memberatkan para petani. Adapun prototipe alat tersebut membutuhkan biaya Rp 500 ribu, dengan 10 titik penyiraman.

“Kita coba tekan lagi biaya pembuatannya agar lebih murah, alat ini kita setting untuk empat jenis yakni dari atas, springkel, dan yang langsung ke tanaman,” pungkasnya.

Sementara itu, Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menjelaskan jika inovasi ini bisa memudahkan untuk pengiriman di lahan pertanian. Sehingga bisa mewujudkannya ketahanan pangan.

“Karena lebih mudah ya, jadi tidak ada alasan tidak bisa menanam karena repot. Penyiraman bisa melalui smartphone,” katanya.

Mbak Ita sapaannya, menjelaskan inovasi ini bakal pihaknya kembangkan lebih lanjut. Bahkan ada BUMN yang memberikan CSR untuk 25 alat dan akan kita bagikan ke kelompok tani.

“Dengan inovasi ini, Pemkot Semarang bisa menjalankan arahan Presiden untuk bisa mewujudkan ketahanan pangan,” tambah dia. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp